Tak Ada Pengabdian yang Sia-Sia
Suara gemericik air hujan di luar jendela ruangan kelas SDN 1 Ciraja seolah mengiringi deretan kenangan yang berputar kembali di benak Suherman. Di atas meja kerjanya, tertata rapi tumpukan lembar kerja siswa dan sebuah map berisi dokumen resmi. Di bagian atas dokumen itu, tertera nama lengkapnya beserta gelar yang diraihnya dengan penuh perjuangan: Suherman Komara, S.Pd.SD., lengkap dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) yang kini resmi melekat.
Butuh waktu dua puluh tahun untuk sampai di titik ini.
Dua puluh tahun lalu, dengan ijazah yang masih berbau tinta cetak dan semangat yang membumbung tinggi, Suherman melangkah mantap menuju lokasi tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pertamanya. Kala itu, bayangannya sederhana: lulus, memakai seragam khaki kebanggaan, dan mendedikasikan hidup sepenuhnya di dunia pendidikan. Namun, papan pengumuman di kantor kabupaten beberapa bulan kemudian memberikan jawaban lain. Namanya tidak ada di sana.
"Belum rezeki," bisiknya waktu itu, mencoba melapangkan dada.
Tahun berganti tahun. Musim tes CPNS datang dan pergi seperti siklus tahunan yang membawa harapan sekaligus ujian mental. Dua kali gagal, tiga kali gagal, hingga hitungan itu tak lagi sanggup ia ingat tanpa rasa sesak. Suherman menyaksikan rekan-rekan seangkatannya satu per satu lulus, merayakan kelulusan, dan melangkah maju. Sementara itu, ia masih berada di garis yang sama, mengajar dari hari ke hari sebagai guru honorer dengan honor yang jauh dari kata cukup, namun dengan pengabdian yang tak pernah berkurang sedikit pun.
Ada masa-masa berat ketika pertanyaan dari kerabat atau tetangga terasa lebih tajam dari sembilu. "Masih ikut tes lagi, Pak?" atau "Kenapa tidak cari pekerjaan lain saja?"
Di tahun-tahun ke-12 dan ke-15, rasa lelah luar biasa sempat merayap naik. Suherman pernah duduk di sudut ruangan kelas yang kosong setelah seluruh muridnya pulang, menatap papan tulis hitam, dan bertanya pada diri sendiri dalam hening: Sampai kapan? Apakah jalan ini memang diciptakan untuk saya?
Titik balik dalam hidupnya tidak datang dari pengumuman kelulusan, melainkan dari perubahan di dalam dadanya sendiri. Di suatu sore, saat melihat binar mata seorang murid sekolah dasar yang akhirnya bisa membaca setelah berminggu-minggu ia bimbing dengan sabar, Suherman menyadari satu hal penting. Ketulusannya mendidik tidak boleh disandera oleh selembar kertas status. Pengabdiannya di depan kelas adalah nilai hidupnya yang sejati, ada ataupun tanpa seragam khaki itu.
Sejak saat itu, ia berhenti mengutuki kegagalan. Ia menerima setiap kekalahan dalam ujian bukan sebagai penolakan atas kapasitas dirinya, melainkan sebagai proses menempa kesabaran yang lebih dalam. Kegagalan demi kegagalan mengikis rasa jumawa, mengajarkannya kerendahan hati, dan membentuk daya tahan mental yang tidak mudah patah oleh keadaan.
Hingga akhirnya, tahun ke-20 itu tiba.
Suherman mendaftar kembali. Kali ini tanpa beban ekspektasi yang menghimpit, tanpa rasa terburu-buru. Ia melangkah ke ruang ujian dengan persiapan matang, doa yang tenang, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Ia tidak lagi mengejar pengakuan, melainkan hanya melakukan yang terbaik yang ia bisa.
Pagi itu, suasana di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung di Soreang dipadati lautan manusia. Lembaran koran Pikiran Rakyat terbentang di jemari para peserta yang berdesakan meneliti baris demi baris cetakan nomor dan nama. Di sudut lain, kerumunan warga berdesak-desakan menatap papan pengumuman kayu berukuran besar. Jarinya yang sedikit gemetar perlahan menelusuri deretan nama yang tercetak di kertas lembaran pengumuman tersebut. Ketika matanya menangkap nama Suherman Komara, dada pria itu berdesir hebat. Air mata yang telah tertahan selama dua dekade akhirnya jatuh juga, menetes pelan mengaliri pipinya.
Kini, berdiri di depan murid-muridnya sebagai wali kelas, Suherman menyadari bahwa dua puluh tahun penantian itu bukanlah waktu yang terbuang sia-sia. Tuhan tidak sedang menundanya tanpa alasan; Tuhan sedang membentuk karakternya agar ketika hari itu tiba, ia tidak hanya siap menjadi seorang pegawai negeri, tetapi menjadi seorang pendidik yang benar-benar bijaksana, tangguh, dan penuh rasa syukur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar