Jumat, 22 Desember 2017

BAGAIMANA UPAYA DINI, CEGAH PERSEKUSI DISEKOLAH


Prihatin,nyesek didada,geleng kepala serasa tidak percaya, tapi nyata, kita saksikan penayangannya di media televisi, itu sedikit ilustrasi saat kita saksikan sebuah tayangan terjadinya Persekusi ,mudah-mudahan hal tersebut bukan hanya sekedar menjadi tontonan saja, tanpa adanya upaya untuk mencegah agar itu merupakan kejadian yang terakhir kali kita dengar dan saksikan, semua pihak harus peduli, karena hal tersebut bukan saja menjadi beban tanggungjawab sekolah untuk mencegahnya, keluarga dan lingkungan, harus satu tekad untuk mencegahnya.
Lalu apakah Persekusi itu?
Awalnya saya tidak paham, karena istilah tersebut menurut saya tidak begitu familiar, namun setelah ada beberapa peristiwa, akhirnya saya mencari tahu tentang hal itu.
Jadi persekusi/per·se·ku·si/ /pérsekusi/ v pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas;(https://kbbi.web.id/persekusi)
Lalu, bagaimanakah upaya pihak sekolah ataupun guru, untuk mencegah terjadinya persekusi dilingkungan sekolah, sebagai bentuk peran aktif guru dan sekolah untuk meminimalisir terjadinya persekusi,ini hanyalah sumbangsih pemikiran, sependapat atau tidak, bukanlah halangan untuk berpendapat, mudah-mudahan ada guna dan manfaat.
Berikut upaya yang dapat diaplikasikan dikelas masing-masing, sesuai dengan surat tugas mengajar bapak dan ibu guru, maupun oleh orangtua dirumah:
  1. Beri pemahaman kepada peserta didik, bahwa seisi kelas ini dan atau semua siswa disekolah ini, adalah saudara dan keluarganya,kelas 6 anak paling besar,kelas 5,4,3,2,dan kelas 1 adalah adiknya, begitupun sebaliknya,dan semua guru adalah orangtua keduanya disekolah.
  2. Tanamkan pengertian bahwa yang namanya keluarga itu satu hati,satu rasa, jadi haruslah saling menjaga, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menyayangi.
  3. Jika peserta didik sudah paham dan mengerti pentingnya saling menjaga,saling menghargai,saling menghormati dan saling menyayangi,dan menjadikannya sebuah habit atau kebiasaan positif, diharapkan tidak terjadi saling ejek,saling menghina,saling cemooh, hingga terjadi perkelahian yang tidak diinginkan, baik oleh guru maupun sekolah.
  4. Terapkan pengawasan melekat, yang melibatkan semua unsur-unsur yang ada disekolah, baik itu kepala sekolah, bapak ibu guru, penjaga sekolah dan siswa itu sendiri, semua saling mengawasi, sehingga ada perbuatan sekecil apapun, yang dinilai tidak seharusnya dilakukan oleh peserta didik, segeralah koordinasikan dengan pihak guru maupun bapak atau ibu kepala sekolah.
  5. Quick Respon,Jika ada laporan atau pemberitahuan dari pihak peserta didik, sekecil apapun,segeralah respon dengan cepat jangan diabaikan,tangani dengan serius.
  6. Jangan bosan untuk bawel, selalu menyegarkan ingatan peserta didik tentang poin-poin diatas, bawel adalah metode sederhana yang terbukti efektif mencegah peserta didik Kita, dari keinginan untuk menghina temannya, mencubit temannya, mencemooh temannya dan hal-hal negatif lainnya, walaupun terkadang sifat bawel tersebut tidak disukai, baik oleh anak kita dirumah maupun peserta didik kita disekolah, namun... jangan lantas membuat kita selaku guru atau orangtua menjadi abai melaksanakan tugas tersebut.
  7. Tanamkan Pendidikan keagamaan sejak dini, sehingga peserta didik ataupun anak kita, paham dan mengerti,mana perbuatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan,mana perbuatan yang baik dan tidak baik untuk dilakukan.
Demikian, sedikit sumbangsih pemikiran, saya yakin, bapak ibu lebih tahu dan lebih faham, mohon maaf bukan bermaksud menggurui, hanya sedikit belajar berbagi!
Terimakasih!
STOP PERSEKUSI!

Daftar Referensi:
https://kbbi.web.id/persekusi

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER, YANG DIBENTUK OLEH METODE PEMBELAJARAN


Metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya yang dilakukan oleh guru didalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Adapun arti menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

metode/me·to·de/ /métodé/ n 1 cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan; 

pembelajaran/pem·bel·a·jar·an/ n proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar;

Ada beberapa kesamaan yang tersurat dalam kedua pengertian diatas, bahwa metode adalah sebuah cara atau upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran,dan pembelajaran itu sendiri adalah sebuah proses untuk menjadikan orang atau peserta didik belajar.
Belajar dan mengajar adalah dua kata yang saling bertautan artinya yang mengajar juga harus belajar, karena kewajiban belajar tidak hanya ditujukan untuk yang namanya peserta didik.
Pengertian Mengajar yang saya akses dari http://www.definisi-pengertian.com/2015/05/definisi-dan-pengertian-mengajar.html, yang diakses pada tanggal 22 Desember 2017, disebutkan bahwa mengajar menurut Tyson dan Carol (1970) ialah ",...a way working with student...a process of interaction... the teacher does something to student;, the student do something in return". Dari definisi ini tergambar bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan (Syah,2002:181).
Dan, mengajar, memerlukan yang namanya metode sebagai cara atau upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam postingan artikel kali ini, saya tidak akan membedah teori tentang metode pembelajaran tersebut, namun saya melihat dari sisi lain dengan digunakannya metode dalam sebuah kegiatan pembelajaran, yang disadari atau tidak, bahwa ketika metode pembelajaran tersebut diaplikasikan dalam pembelajaran, ternyata membentuk dan membangun nilai-nilai Pendidikan karakter, terlepas dari kekurangan dan  kelemahan metode tersebut,dan...nilai-nilai pendidikan karakter apa sajakah itu,mari kita kupas:
1.Metode Ceramah
   Nilai pendidikan karakter yang terbentuk:
  •     Mau mendengarkan oranglain,bukan hanya mau didengar saja
2. Metode Eksperimen
    Nilai pendidikan karakter yang terbentuk:
  •     Berpikir kreatif
  •     Mandiri
  •     Inovatif
3. Metode Pemberian Tugas (Respirasi)
    Nilai Pendidikan Karakter yang terbentuk:
  • Bertanggungjawab
  • Mandiri 
 4.Metode Diskusi
    Nilai Pendidikan Karakter yang terbentuk:
  • Berani mengeluarkan pendapat 
  • Menghargai pendapat orang lain 
  • Saling menghormati  
  • Mendengarkan saran dan pendapat orang lain
  • Belajar memecahkan masalah 
5. Metode Demonstrasi
    Nilai Pendidikan Karakter yang terbentuk:
  • Mandiri
  • Aktif  
  • Kreatif  
  • Berani  
  • Kerja keras  
  • Percaya diri 
6. Metode Sosiodrama
    Nilai Karakter yang terbentuk:
  • Kreatif  
  • Kerjasama 
  • Inisiatif 
  • Bertanggungjawab 
Demikian, semoga bermanfaat! 

Daftar Referensi:
  • https://kbbi.web.id/metode
  • https://kbbi.web.id/pembelajaran
  • http://www.definisi-pengertian.com/2015/05/definisi-dan-pengertian-mengajar.html  diakses 22 Desember 2017.

Rabu, 20 Desember 2017

BAGAIMANA CARA MENJADI SEORANG PROFESIONAL


Kata "Profesional", sudah demikian familiar di pendengaran bapak dan ibu guru, selalu menjadi ujung pengharapan ketika kita selesai mengikuti Bimtek, Workshop, Pelatihan, seminar dan acara pembinaan lainnya.
Lalu, apakah Profesional itu?
Di dalam UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,BAB I tentang KETENTUAN UMUM,pada Pasal 1 poin nomor 4,disana disebutkan bahwa Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau  kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Kemudian pengertian Profesional menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:
profesional/pro·fe·si·o·nal/ /profésional/ a 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak --; 3 mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir): pertandingan tinju --
Itulah dua pengertian Profesional menurut Undang-undang guru dan dosen serta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat 3 ,kata kunci yaitu:
  1. Keahlian
  2. Kemahiran,dan atau
  3. Kecakapan
Mari kita telusuri arti ketiga kata kunci tersebut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,yaitu:
1.keahlian/ke·ah·li·an/ n kemahiran dalam suatu ilmu (kepandaian, pekerjaan)
2.kemahiran/ke·ma·hir·an/ n kecakapan (dalam melakukan sesuatu); kemampuan; kepandaian: para pesenam itu bertanding memperlihatkan - masing-masing
3.kecakapan /ke·ca·kap·an /n 1 kemampuan; kesanggupan; 2kepandaian atau kemahiran mengerjakan sesuatu
Yang menjadi bagian dari tugas kita sebagai guru adalah menjadi guru yang ahli,mahir dan atau cakap.
Bisa?
Mampu?
Jawabannya harus bisa dan harus mampu,karena Undang-undang mengisyaratkan bahwa "Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah,dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen BAB II tentang Kedudukan, fungsi dan tujuan,Pasal 2 ayat 1)
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimanakah cara menjadi seorang Profesional itu?
Pertanyaan yang mudah namun jawabannya tentu akan  beragam,, tergantung dari  perspektif  sudut  pandang masing-masing,,bisa saja  ada  yang menjawab sulit,, mudah  atau  tidak  keduanya, jawaban yang manapun yang tersirat dihati, semuanya benar sepanjang ada usaha atau ikhtiar untuk menjadi seorang profesional, yang salah adalah yang tidak ada usaha atau ikhtiar untuk menjadi seorang profesional.
Menjadi profesional itu memerlukan proses seumur hidup menurut saya, karena ternyata dalam aplikasi nyata dilapangan,kita senantiasa dihadapkan pada hal-hal baru, kesulitan baru, penemuan baru yang memerlukan strategi pemecahan baru.
Dan... jawaban untuk pertanyaan terakhir tentang bagaimana cara menjadi seorang Profesional menurut pendapat saya adalah:

  1. Selalu meng-upgrade diri, artinya bahwa kita harus senantiasa belajar dan belajar untuk menambah dan memperbarui ilmu,wawasan, keahlian dan kemahiran dan atau kecakapan kita, inilah menurut saya ruh dari program guru pembelajar, sebagai upgrader dan charger untuk kembali menaikkan level semangat, kreativitas dan inovasi guru.
  2. Ingatlah selalu konsep pendidikan sepanjang hayat atau Long Live Education artinya adalah rancangan atau gagasan tentang proses pembimbingan manusia yang terus berlangsung selama ia hidup.
  3. Jangan berhenti untuk belajar, karena berhenti belajar sama artinya dengan berhenti mengajar
  4. Jangan berhenti berusaha untuk menjadi seorang yang profesional,karena profesionalitas itu memerlukan proses yang panjang dan upaya yang berkesinambungan.
  5. Profesionalitas berlandaskan kerja keras, bukan rasa malas,jadi, untuk menjadi seorang yang profesional, kita harus bekerja keras.
Demikian, semoga bermanfaat!
Bukan bermaksud menggurui, hanya sekedar berbagi!


Daftar Referensi:

  • https://kbbi.web.id/Profesional
  • https://kbbi.web.id/keahlian
  • https://kbbi.web.id/kemahiran
  • https://kbbi.web.id/kecakapan

Senin, 18 Desember 2017

DALAM PUSARAN KONFLIK ?

Wuih..... judulnya itu lho, bombastis! Sengaja,biar ke deteck sama mesin penelusur!tapi....tidak terlalu begitu sih tujuannya,hanya... ketika stembay didepan channel sebuah tivi, mendengar istilah itu,maka terlintaslah untuk membuat judul artikel seperti itu.
Berada dalam pusaran konflik, terjadi disemua profesi, tidak terkecuali dalam profesi guru, dengan jenis konflik yang tentu saja berbeda karena profesinya pun berbeda, lalu konflik apa saja yang biasanya ada dilingkungan profesi guru, mari kita bahas satu persatu,mohon maaf bukan bermaksud menggurui, hanya berbagi, semoga bermanfaat dan mudah-mudahan menjadi early warning bagi kita, agar tidak salah dalam mengambil keputusan,inilah salah satu konfliknya:

  • Konflik kepentingan
Guru, adalah sebuah profesi mulia, dan guru dimata sebagian besar masyarakat adalah sosok yang dianggap serba bisa dan serbaguna, kehadirannya banyak dinanti dan diperlukan, apa-apa "bapak/ibu guru",hampir semua sendi kehidupan, guru selalu menjadi tumpuan, dan guru pun,seperti profesi lainnya, juga adalah seorang manusia yang tidak terlepas dari pertentangan antara kepentingan yang satu dengan kepentingan yang lain, ketika kepentingan itu datang, terjadilah konflik kepentingan, yang terkadang membuat bingung, kepentingan mana yang harus diprioritaskan, apakah urusan dinas ataukah urusan kepentingan yang harus didahulukan,maka terjadilah pertentangan atau konflik ditubuh kita, hingga kita berada dalam pusaran konflik.
Lalu, konflik Kepentingan apa sajakah itu?

1.Kepentingan Dinas Vs Kepentingan Keluarga
Kepentingan keluarga itu beragam, mulai dari mengantar anak sakit kedokter,istri melahirkan, wisuda anak, keluarga meninggal, wisata keluarga,dan sebagainya, ketika kepentingan itu hadir,maka sikap kita sebaiknya adalah:
  • Kelompokkan berbagai kepentingan tersebut, kedalam beberapa kelompok 
  •  Setelah dikelompokkan lalu analisis kepentingan manakah yang benar-benar urgent, artinya tidak dapat diwakilkan dan tidak dapat digantikan, selama masih bisa diwakili dan selama masih bisa digantikan oleh orang lain,Maka gantikan dan wakilkan kepada orang lain
  • Jika setelah dikelompokkan dan dianalisis ternyata kepentingan itu tidak dapat diwakili dan digantikan,misalnya ada anggota keluarga yang meninggal,maka mintalah izin kepada atasan sesuai prosedur yang telah diatur. 
2.Kepentingan Dinas Vs Kepentingan Organisasi
Kepentingan organisasi biasanya menghampiri guru yang aktif diwilayahnya, seperti menjadi pengurus RW, Pengurus Lembaga di Desa seperti BPD (Badan Permusyawaratan Desa),MUI Desa,Pordes, atau organisasi lain diluar organisasi politik tentunya.Ketika kepentingan ini hadir, tentunya akan menyita perhatian kita,karena, bagaimana pun,kita adalah bagian dari sebuah komunitas masyarakat yang berada didalam sebuah wilayah pemerintahan yang bernama Desa ataupun kelurahan, yang adakalanya mereka membutuhkan peran partisipasi aktif  kita sebagai warga Desa ataupun warga kelurahan, dilematis memang, andaikan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat itu ditolak.
Jujur, saya aktif dibeberapa organisasi lembaga kemasyarakatan yang ada didesa, namun, sejak awal kepercayaan itu diberikan, inilah langkah saya, mudah-mudahan menginfirasi, saya menerima amanah tersebut dengan catatan:
  • Tidak menggangu aktifitas dan rutinitas Tugas Pokok dan Fungsi saya sebagai guru.
  • Jika ada kegiatan baik rapat maupun kegiatan lain yang dilaksanakan saat jam kerja, saya tidak akan mengikuti kegiatan tersebut akan tetapi mewakilkan kepada rekan yang lain, kecuali kegiatan yang dilakukan pada malam hari, saya siap hadir.
Itulah fakta integritas yang saya sampaikan kepada pemangku kepentingan, agar mereka tahu dan mengerti dengan tugas pokok dan fungsi saya sebagai seorang pegawai. 
3.Kepentingan Dinas Vs Kepentingan Masyarakat
Sebagai mahluk sosial dan sebagai bagian dari masyarakat , siapapun tidak akan terlepas dari kepentingan dengan masyarakat sekitar, kita perlu bersosialisasi dan bergaul dengan masyarakat sekitar kita , yang berguna sebagai media untuk mengasah kompetensi sosial kita dilingkungan real, dan sebagai media pengaplikasian kompetensi sosial kita,maka,kita akan dihadapkan dengan kepentingan dengan masyarakat seperti berikut:Kerja bakti,gotong royong, ditunjuk menjadi panitia sebuah event, misalnya panitia agustusan, panitia peringatan hari besar keagamaan,dan lain sebagainya, tentunya kegiatan inipun, bingung untuk ditolak, karena kita bagian dari masyarakat itu sendiri,hanya yang menjadi catatan penting adalah, kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tidak menggangu tugas pokok dan fungsi yang utama yang harus menjadi prioritas, yaitu sebagai guru.
Itulah sebagian kecil dari pusaran kepentingan seorang guru, yang merupakan bagian dari sebuah komunitas masyarakat dan pemerintahan, terimakasih, semoga bermanfaat!

Minggu, 17 Desember 2017

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK


Bersosialisasi bukanlah suatu keharusan,akan tetapi sebuah kebutuhan yang suatu saat diperlukan oleh kita sebagai manusia, yang merupakan bentuk aplikasi kita sebagai mahluk sosial,yaitu mahluk yang senantiasa akan memerlukan orang lain dan diperlukan oleh orang-orang disekitar kita.
Dalam bersosialisasi, tentu memerlukan filter sosial yang tinggi, bukan artinya kita pilih-pilih dalam bersosialisasi, namun sebagai upaya dini, agar kita tidak salah dalam bersosialisasi, agar anak kita tidak salah dalam bergaul, karena ketika anak atau peserta didik kita bersosialisasi,mereka akan bertemu dengan orang-orang baru dengan beragam adat dan kebiasaan, bermacam-macam watak dan kepribadian, berbeda adat istiadat, menemukan lingkungan baru diluar rumah,dan lain sebagainya.
Lingkungan mempunyai andil besar dalam pembentukan karakter anak atau peserta didik, jika anak atau peserta didik didik bergaul dilingkungan yang baik,maka karakternya akan tumbuh baik, tetapi jika anak atau peserta didik bergaul dilingkungan yang jelek,maka karakternya akan tumbuh dengan jelek,maka perhatikanlah ketika anak bersosialisasi karena tempat bersosialisasi anak akan memberikan kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang karakternya.
Mari,kita perhatikan lingkungan tempat anak bersosialisasi, seperti berikut:
1.lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah adalah  kawasan atau wilayah sekolah tempat anak bersosialisasi dan bergaul dengan teman-teman beserta guru dan karyawan sekolah lainnya.Di dalam lingkungan sekolah terjadi proses interaksi dan sosialisasi, yang akan berdampak pada karakter anak, oleh karena itu, ketika orangtua akan menyekolahkan anaknya di suatu sekolah,maka perhatikanlah hal-hal berikut:
  • Gurunya, apakah bapak dan ibu gurunya,yang akan mendidik, mengajar, membimbing dan melatih anak-anak kita itu, memiliki kesesuaian sifat, watak, tabiat, seperti yang kita inginkan atau tidak?
  • Calon teman-temannya, yang menjadi kriteria calon teman anak kita bukanlah harus anak orang kaya dan berada, akan tetapi apakah calon temannya anak kita nanti itu baik, sopan,rajin, disiplin,patuh, taat,jimat atau tidak,agar pada saat nanti anak kita bersosialisasi, mereka bersosialisasi dengan anak-anak yang baik sehingga anak kita tumbuh bersama dengan anak-anak yang baik pula. 
2.lingkungan masyarakat
Yaitu lingkungan disekitar rumah, perhatikanlah lingkungan sekitar rumah, apakah dapat memberikan kontribusi positif atau tidak, bagi tumbuh kembang karakter anak, perhatikan tempat bermainnya anak,teman bergaulnya anak, dan lain sebagainya,ini bukanlah tindakan over protective terhadap anak,namun sebuah langkah positif sebagai orangtua untuk masa depan anak, tengoklah berbagai berita negatif perilaku sebagian kecil anak-anak, jangan-jangan, perilaku mereka itu disebabkan oleh faktor salah asuh,dan salah dalam bersosialisasi, yang luput atau tidak menjadi prioritas perhatian orangtua, mereka terabaikan, tidak mendapatkan bimbingan, perhatian dan kepedulian, sehingga terjerumus kedalam pergaulan dilingkungan yang kurang baik, nauzubillah.... mudah-mudahan anak-anak kita terhindar dari hal-hal negatif pengaruh lingkungan serta dari pergaulan yang kurang baik.Memang, tidak ada jaminan bahwa lingkungan yang baik dapat membuat anak kita baik,akan tetapi, berusaha dan berikhtiar adalah sebuah kewajiban, karena kita yakin bahwa jika anak dididik oleh keluarga yang baik, didukung oleh lingkungan yang baik dan bersekolah disekolah yang baik, akan tumbuh dan memiliki karakter yang baik pula.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat!

Sabtu, 16 Desember 2017

HAL YANG HARUS DIMILIKI SEORANG GURU


Menjadi guru tidaklah semudah membalik telapak tangan, atau sekali membaca simsalabim abrakadabra, langsung jadi.Menjadi guru butuh waktu dan proses, waktu ditempuh bukan dalam sekejap,bisa 14 tahun atau 15 tahun, dengan rincian, dari semenjak kita masuk SD,SMP,SMA sampai Perguruan Tinggi,dan Proses nya untuk menjadi guru itu,lebih lama dibandingkan dengan 15 tahun waktu yang ditempuh dibangku sekolah,karena proses menjadi guru itu ditempuh seumur hidup, setiap saat kita dituntut untuk belajar dan belajar, berhenti belajar sama dengan berhenti mengajar atau menjadi guru.
Disamping waktu dan proses, menjadi guru itu memerlukan hal berikut:

  1. Memiliki bakat,minat, panggilan jiwa,dan idealisme (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub a)
  2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,ketakwaan dan akhlak mulia (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub b)
  3. Kwalifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub c)
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub d)
  5. Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan nya (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub e)
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub f)
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub g)
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub h);dan
  9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.(UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab III tentang Prinsip Profesionalitas,pasal 7 ayat 1 sub i)
  10. Memiliki sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi persyaratan (UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,Bab IV pasal 11 ayat 1)
Demikian hal yang harus dimiliki oleh guru, menurut UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, semoga bermanfaat.

Daftar referensi:
UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen

Rabu, 13 Desember 2017

BAGAIMANA PERAN GURU DAN ORANGTUA DALAM MENGHADAPI KESULITAN BELAJAR ANAK


Masih ingatkah bapak ibu guru,dengan tugas 7M guru, bukan 7 Milyar tugas guru itu, tapi 7M yang saya maksud adalah:

  1. Mendidik
  2. Mengajar
  3. Membimbing
  4. Menilai
  5. Mengevaluasi
  6. Mengarahkan
  7. Melatih
Nah, itulah 7M yang saya maksud.
Dalam hal menjalankan tugasnya sebagai pembimbing, guru menjalankan tugas itu untuk seluruh peserta didik tanpa kecuali, namun ada kalanya, tugas pembimbingan ini diberikan khusus manakala ada peserta didik yang memerlukan bimbingan khusus,jenis bimbingan beragam disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, misalnya:
  1. Bimbingan belajar, bimbingan belajar diberikan kepada peserta didik yang menemukan Kesulitan dalam belajar, misalnya kesulitan dalam memahami proses perkalian, penjumlahan, membaca,dan sebagainya.
  2. Bimbingan minat dan bakat, bimbingan ini diberikan kepada peserta didik yang memerlukan bimbingan dalam pengembangan minat dan bakatnya, misalnya peserta didik yang mempunyai bakat di bidang tarik suara, dibidang olahraga, dibidang seni dan budaya, dan sebagainya.
Mari kita bahas bimbingan nomor 1, yaitu bimbingan belajar, bimbingan belajar diberikan manakala guru menemukan peserta didik yang menemukan Kesulitan dalam hal belajar secara umum, cara mendeteksi peserta didik yang memerlukan proses pembimbingan bisa didapatkan dari hasil analisis ulangan harian atau hasil analisis dari ulangan akhir semester atau penilaian akhir semester, dari hasil analisis kedua program evaluasi tersebut, akan didapati anak yang memerlukan proses pembimbingan karena nilai yang didapatkannya belum memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal yang dipersyaratkan, setelah didapatkan peserta didik seperti itu,maka langkah guru berikutnya adalah membuat program bimbingan, contohnya:
1..Jika peserta didik belum tuntas atau nilainya belum memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal,maka:
  • Kelompokkan siswa menurut kesamaan indikator yang belum bisa mereka tuntaskan.
  • Bimbing secara khusus,mau dikelas secara klasikal atau membuat jadwal khusus diluar jam tatap muka.
  • Setelah melalui proses pembimbingan, kemudian masuk tahap berikutnya yaitu penilaian atau evaluasi untuk mengetahui tingkat perkembangan hasil pembimbingan.
2.Jika peserta didik belum bisa membaca ataupun menulis, bisa dilakukan dengan membuat jadwal khusus misalnya guru menyita waktu istirahatnya untuk dipergunakan membimbing membaca atau menulis peserta didik selama 10 atau 15 menit, yang dilakukan secara berkala,bisa tiap hari seperti itu atau dua hari sekali, tergantung dari jadwal yang disepakati bersama dengan peserta didik yang bersangkutan.memang Lela bagi kedua belah pihak, baik bagi anak maupun guru, diperlukan kesabaran tingkat tinggi dan kesadaran akan tugas,bahwa tugas guru adalah membimbing siswa hingga berhasil.
Pertanyaannya, apakah tugas pembimbingan itu hanyalah tugas guru semata? Tentu jawabannya bukan, orangtua juga mempunyai kewajiban yang sama untuk membimbing anaknya dirumah, melanjutkan proses pembimbingan yang dilakukan oleh bapak atau ibu gurunya disekolah,perlu sinergi antara orangtua dan guru dalam proses pembimbingan ini., guru dan orangtua harus senantiasa bekerjasama, saling bahu membahu, orangtua jangan hanya menyerahkan urusan pendidikan anaknya kesekolah sementara dirumah anak dibiarkan begitu saja tanpa adanya proses pembimbingan, mudah-mudahan dengan adanya kerjasama antara guru dengan orangtua siswa, proses pembimbingan menjadi cepat berhasil dan kesulitan belajar siswa cepat terdeteksi dan cepat teratasi.
Demikian, semoga bermanfaat!

GURU SEBAGAI MODEL DAN TELADAN


Model?
Asosiasi kita pasti tertuju pada sosok cantik atau ganteng,yang berjalan diatas catwalk,menjadi pusat perhatian,dari cara dia berjalan,pakaian yang dikenakan serta aksesoris yang dikenakannya.
Tapi bukan itu yang dimaksud dengan judul artikel diatas, walaupun ada beberapa kesamaan, seperti:
  • Model menjadi pusat perhatian, guru juga menjadi pusat perhatian,dari mulai jalan hingga pakaian apa yang dikenakannya,cara berbicaranya,serta tingkah lakunya,bahkan semua aspek kehidupan seorang guru menjadi pusat perhatian siswanya, orangtuanya dan lingkungannya.
Lalu,apa model itu?
Menurut kamus besar bahasa Indonesia:
model/mo·del/ /modél/ n 1 pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan: rumahnya dibuat seperti -- rumah adat; 2 orang yang dipakai sebagai contoh untuk dilukis (difoto): pernah aku menjadi -- lukisan; 3 orang yang (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yang akan dipasarkan: gadis -- yang cantik-cantik itu memperagakan pakaian dari bahan batik; 4barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) persis seperti yang ditiru: -- pesawat terbang;
-- dasar pola utama: ia menggunakan jenis tari bedaya sebagai -- dasar ciptaannya

Merujuk pada pengertian mode menurut KBBI diatas,bahwa model itu Pola,contoh atau acuan,jadi guru sebagai model adalah guru yang akan selalu dijadikan pola, acuan dan contoh baik oleh peserta didik maupun oleh masyarakat sekitar,ada sebuah ungkapan yang populer untuk menganalogikan bahwa setiap gerak gerik, tingkah laku dan ucapan guru akan dipola oleh peserta didik yaitu "guru kencing berdiri anak kencing berlari", artinya bahwa peserta didik akan mencontoh bulat-bulat apapun yang dilakukan oleh bapak ibu gurunya,maka dari itulah setiap ucap,langkah, tingkah dan perbuatannya harus baik dan benar, agar dapat memberi contoh yang baik dan benar juga.
Memang susah menjadi sosok yang sempurna, tetapi berusaha menjadi sempurna adalah langkah baik dan benar untuk memulai menyempurnakan diri, karena tidak ada manusia yang sempurna, selalu saja ada kekurangan yang tampak dimata orang lain,akan tetapi banyak orang yang berusaha menjadi sempurna dengan tidak lelah terus menerus berusaha.Begitupun dengan sosok seorang guru, banyak yang berusaha bekerja, berpenampilan, berbuat, bertingkah laku dan berucap sesuai dengan norma dan etika seorang guru,agar peserta didik dapat mencontoh hal-hal baik dari gurunya.
Antara guru sebagai model dan panutan, adalah sebuah simbiosis mutualisme, ketika guru sudah berusaha tampil menjadi model yang sempurna, menjadi model yang baik,maka akan menjadi panutan yang baik baik bagi peserta didik maupun lingkungannya.Akronim bahwa Guru adalah sosok yang patut digugu dan ditiru.Digugu (bahasa Sunda) artinya bahwa setiap ucap dan perkataan guru akan selalu dituruti oleh peserta didiknya, sedangkan ditiru mempunyai arti bahwa apapun yang dilakukan oleh seorang guru akan ditiru oleh peserta didiknya
Demikian, semoga bermanfaat!

Daftar referensi:
https://kbbi.web.id/model

Senin, 11 Desember 2017

BAGAIMANA CARANYA AGAR POTENSI MENJADI PRESTASI


Semua peserta didik memiliki potensi, namun tidak semua potensi itu berbuah manis menjadi sebuah prestasi.
Potensi itu jika dianalogikan adalah sebuah intan dan intan  tidak akan berubah menjadi sebuah berlian yang kemilau dan mempesonakan setiap mata yang memandangnya,tanpa adanya sentuhan seorang ahli atau seorang penggosok intan yang kompeten di bidang pengolahan intan,dan mengerti kaidah-kaidah dalam memotong dan membentuk intan hingga menjadi sebuah berlian yang mahal dan mewah.
Begitulah alur sebuah potensi yang dimiliki oleh seonggok batu yang diberi nama intan.
Begitupun potensi yang dimiliki oleh peserta didik kita, potensi memerlukan sentuhan seorang ahli untuk membentuknya, bagaimana cara membentuknya hingga membuahkan sebuah prestasi? Berikut pembahasannya:
Pada postingan sebelumnya saya telah mempublikasikan sebuah artikel yang berjudul mengenal, memahami dan mengembangkan potensi peserta didik,nah, Sekarang bagaimana supaya potensi tersebut berbuah prestasi,yaitu melalui :
1.Pembinaan 
pembinaan/pem·bi·na·an/ n 1 proses, cara, perbuatan membina (negara dan sebagainya); 2 pembaharuan; penyempurnaan; 3 usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik;- bahasa upaya untuk meningkatkan mutu penggunaan bahasa, antara lain mencakupi peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa yang dilakukan misalnya melalui jalur pendidikan dan pemasyarakatan; - hukum kegiatan secara berencana dan terarah untuk lebih menyempurnakan tata hukum yang ada agar sesuai dengan perkembangan masyarakat; - kesatuan bangsapenyatuan bangsa dan golongan keturunan asing dengan cara sedemikian rupa sehingga dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, kesukuan dan keturunan sudah tidak sesuai lagi untuk dikembangkan; - watak pembangunan watak manusia sebagai pribadi dan makhluk sosial melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah, organisasi, pergaulan, ideologi, dan agama
Jadi,menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa arti dari Pembinaan seperti yang tertera pada arti pada angka nomor 3 adalah  3 usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik;
Pembinaan potensi peserta didik inipun bertujuan agar memperoleh hasil yang lebih baik, yaitu sebuah prestasi.Pembinaan dapat dilakukan ditempat-tempat berikut:
  • Disekolah, melalui kegiatan ekstrakurikuler atau kegiatan sejenis lainnya oleh seseorang yang mempunyai kompetensi khusus dibidangnya,bisa oleh guru olahraga atau guru lain yang kompeten di bidangnya,atau dibina oleh pelatih khusus dari luar lingkungan sekolah yang lebih professional dibidangnya.
  • Diluar lingkungan sekolah, pembinaan potensi peserta didik yang dilakukan diluar sekolah banyak dan beragam, diserahkan kepada pilihan orangtua siswa,bisa melalui klub-klub olahraga,bisa juga di SSB atau Sekolah Sepakbola bagi peserta didik yang memiliki potensi dibidang sepakbola,les piano,les tari,baik tarian tradisional maupun modern,les musik,dan lain-lain, banyak dan beragam,sehingga orangtua Siswa mempunyai banyak referensi tempat dan jenis pilihan untuk membina potensi anaknya. 
  • Selain pembinaan yang dilakukan seperti tersebut diatas, potensi peserta didik ataupun anak tersebut juga perlu diberikan pengalaman bertanding, dengan sering mengikuti event-event kejuaraan, mulai dari tingkat sekolah, tingkat desa atau kelurahan, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten,dan seterusnya.Salah satu contoh adalah dengan diselenggarakannya agenda rutin kegiatan O2SN,mulai dari tingkat kecamatan sampai tingkat Nasional.
Demikian,semoga bermanfaat!

Daftar Referensi:

  •  https://kbbi.web.id/pembinaan

Minggu, 10 Desember 2017

MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA

Pernahkah anda suatu waktu sampai dititik jenuh?
Semua orang pasti pernah mengalaminya, jadi jangan pernah merasa sendiri, dalam profesi apapun, termasuk pada profesi guru.
Wajar perasaan itu datang menghampiri kita,karena kehidupan seperti itu:

  1. Kadang,kita semangat menjalankan aktivitas
  2. Terkadang,kurang bersemangat dalam beraktivitas
Banyak faktor yang mempengaruhi naik turunnya level semangat kerja kita, diantaranya:

  1. Lingkungan tempat bekerja,ada kalanya lingkungan tempat kerja,memantik dan mematikan semangat kerja kita
  2. Hubungan dengan rekan kerja, terkadang masalah bisa timbul dari adanya gesekan antar sesama rekan kerja,bisa dari ketersinggungan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, ataupun dari adanya persaingan yang tidak sehat dengan rekan kerja,.
  3. Gaji,tidak dipungkiri manakala berbicara tentang gaji, akan menjadi fokus perhatian, karena diakui atau tidak, kita bekerja karena ingin mendapatkan penghasilan, besar kecilnya penghasilan tersebut dapat menaikkan dan menurunkan level semangat kerja seseorang, namun tidak semua begitu, karena ternyata ada karyawan atau pekerja yang tetap semangat dengan penghasilan yang dianggap kecil oleh orang lain.
  4. Apresiasi,pada dasarnya, manusia itu senantiasa senang ketika hasil kerjanya diapresiasi oleh orang lain, baik atasannya maupun rekan kerjanya,dan apresiasi yang diterima tersebut dapat menaikkan level kerja seseorang, namun hal ini juga tidak berlaku bagi sebagian orang, karena mereka tetap bersemangat dalam menjalani aktivitasnya dengan ikhlas tanpa berharap ada atau tidak ada kata pujian yang terlontar,baik itu dari atasannya maupun rekan kerjanya.
Itu,diantara sekian banyak faktor yang dapat menaikkan dan menurunkan semangat kerja,dan,ketika semangat kerja kita menurun,akan menjadi masalah terhadap produktivitas kerja kita, jadi perlu upaya untuk meningkatkannya kembali, upaya yang dapat dilakukan agar semangat kerja kita kembali meningkat adalah sebagai berikut:

  1. Sadar bahwa jabatan itu adalah amanat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya sekedar bertanggungjawab pada atasan,akan tetapi pertanggungjawaban yang kelak harus dilakukan dihadapan sang Pencipta kelak, kesadaran seperti ini akan menjadi kendali positif bagi kita dan menjadi dasar religius yang akan selalu menyadarkan kita bahwa apapun yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.
  2. Berpikir positif terhadap atasan atau rekan kerja,artinya jangan membandingkan kita dengan rekan kerja disekitar kita, lakukan tugas dengan penuh tanggungjawab, terkadang sisi manusiawi kita muncul manakala melihat kerja orang lain, misalnya: kenapa kita harus serius,toh orang lain pun santai,kenapa kita harus banting tulang,toh,bos kita kerjaannya begitu-begitu saja,dan perasaan-perasaan negatif lainnya,tetaplah fokus pada pekerjaan yang menjadi tanggungjawab kita.
  3. Refreshing, sesekali luangkan waktu untuk mengadakan refreshing, misalnya saat hari libur kerja, kita bisa mengunjungi obyek wisata terdekat, atau sekedar jalan santai bareng keluarga disekitar kompleks rumah kita,atau mendengarkan musik dan menonton film kesukaan kita, semoga setelah kita refreshing, ketika saatnya masuk kerja, kita kembali fit untuk bekerja.
Demikian, beberapa hal sebagai upayapaya meningkatkan produktivitas kerja, mudah-mudahan bermanfaat.

Sabtu, 09 Desember 2017

RAHASIA MENJADI GURU YANG DIRINDUKAN (IKHTIARKU)

Ingin dirindukan adalah perasaan yang wajar bagi siapapun dan ditempat manapun, baik dirumah maupun disekolah.dirumah kita ingin dirindukan oleh keluarga kita,oleh anak maupun istri,pun disekolah,kita ingin dirindukan oleh peserta didik ataupun siswa kita,kedatangan kita dinanti dengan penuh sukacita,kehadiran kita ditunggu dengan penuh harap.Itu keinginan,semua guru pasti berkeinginan seperti itu,yang namanya keinginan,itu baru sebatas angan dan cita-cita,yang jika ingin terwujud perlu ikhtiar agar keinginan untuk dirindukan tersebut menjelma menjadi guru yang benar-benar dirindukan.

Menjadi guru yang dirindukan itu susah-susah gampang,tetapi tidak ada yang susah selagi kita mau berikhtiar atau berusaha.

Menjadi guru yang dirindukan merupakan bagian dari ikhtiar atau upaya guru untuk meng-upgrade kompetensi:
  1. Pedagogik
  2. Kepribadian
  3. Sosial,dan
  4. Profesional
Karena untuk menjadi guru yang dirindukan,memerlukan penguasaan keempat kompetensi tersebut diatas,itulah rahasia jika ingin menjadi guru yang dirindukan,adapun ikhtiar atau upaya yang dilakukan guru diantaranya:
1.Kompetensi Pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci setiap subkompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut;
  • Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
  • Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran memiliki indikator esensial: memahami landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.
  • Melaksanakan pembelajaran memiliki indikator esensial: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
  • Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.
  • Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya, memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.
2) Kompetensi Kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci subkompetensi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan norma sosial; bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
  • Kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.
  • Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial: menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
  • Kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial: memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.
  • Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
3.Kompetensi Sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut:

  • Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.
  • Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.
  • Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
4.Kompetensi Profesional  merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya. Setiap subkompetensi tersebut memiliki indikator esensial sebagai berikut:

  • Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi
Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru artinya bahwa keempat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berkesinambungan antara kompetensi yang satu dengan kompetensi yang lainnya.
Itulah rahasia menjadi guru yang dirindukan,ikhtiarnya adalah kuasai dan aplikasikan keempat kompetensi guru tersebut,agar kita menjadi guru yang dirindukan.

Daftar Referensi:
  • UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

Kamis, 07 Desember 2017

MENUMBUHKAN SEMANGAT BELAJAR ANAK


Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika anak pulang sekolah,terjadilah drama seperti berikut:
  1. Tas nya dilempar masuk dapur, makan tergesa-gesa, beres makan ambil langkah seribu,lupa beres-beres bekas makan, lupa pamit,biyur....lari ke tempat bermain,sampai lupa pulang.Esok harinya,ribut nyari tas sekolah yang entah dimana nyangkutnya,ditambah tugas Sekolah yang belum dikerjakan ,duar...perang duniapun tersulut,seluruh keluarga ribut mencari tas yang entah dimana
  2. Pulang sekolah,tas nya yang ini tidak dilempar,pergi ke dapur,ambil makan,stembay didepan tivi,makan sambil nonton filem kartun idolanya,susah untuk bangkit, nonton filem kartun sampai ketiduran,begitu dibangunin supaya pergi ngaji siang,susahnya minta ampun,akhir cerita,ngaji siang lewat,solat apalagi.
  3. Pulang sekolah,ganti baju setelah mandi,lalu solat,setelah itu makan siang,selesai makan tempat makannya dicuci,nonton tivi sebentar atau ada juga yang sambil mengerjakan tugas sekolah,selesai itu lalu berangkat ke madrasah untuk belajar agama,hingga menjelang magrib,ngaji malam sampai isya,setelah itu membaca dan menyiapkan buku pelajaran buat esok hari,dan...tidur malam.Esok harinya tidak terdengar ada keributan seluruh keluarga mencari tas yang raib dari pandangan,apalagi ribut karena tugas sekolah belum dikerjakan,hm....adem dan sejuk dipandangmata punya anak seperti itu,ideal banget.
Nah,begitulah,tiga judul drama pulang sekolah dan situasi pagi hari menjelang berangkat sekolah,anak kita masuk skenario yang mana ya, kesatu, kedua atau yang ketiga?
Tidak perlu dijawab,tinggal ditonton dan disaksikan reality show-nya dirumah masing-masing.
Gambaran kejadian diatas, tidaklah hanya menjadi sebuah keprihatinan tanpa berusaha mencari solusi penyelesaiannya, karena jika diabaikan,tentunya akan membawa dampak perkembangan anak pada tahapan perkembangan berikutnya,selaku orangtua harus ada upaya merubah kebiasaan jelek anak dirumah, semangat belajar anak dirumah seperti hilang,mereka mengartikan bahwa belajar itu hanyalah disekolah, kalau sudah dirumah,ya.. tidak usah belajar
Solusi untuk merubah mindset anak tentang pengertian belajar  itu bukan hanya sekedar disekolah,tetapi dirumah juga tetaplah harus ada  waktu untuk belajar,nah...cara untuk menumbuhkan semangat belajar anak itu diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Edukasi anak kita sejak dini,tentang tugas dan kewajibannya dirumah,tentu saja disesuaikan dengan perkembangan usianya,misalnya selesai makan biasakan untuk mencuci sendiri tempat makannya,merapikan tempat tidurnya, seandainya kurang bersih dan kurang rapih pun,jangan dihardik nanti malah tidak mau lagi mengerjakan pembiasaan yang Lagi kita tanamkan,tapi harus diberitahu dengan bahasa yang lembut,bahwa ini kurang bersih dan yang itu kurang rapi,bimbing dan bimbing, jangan lelah untuk mengarahkan.
  2. Selalu diingatkan,bahwa anak sekolah punya tugas dan kewajiban juga,yang harus dijalankan secara beriringan dengan tugas dan kewajiban sebagai anak dirumah, walau terkadang ada orangtua yang tidak begitu menuntut,yang penting kakak atau ade, jangan melupakan tugas sekolah, tapi alangkah baiknya juga jika sang anak tahu dan melaksanakan tugas sebagai anak dirumah, dengan membantu pekerjaan ringan orangtuanya disamping mengerjakan tugas sekolah,tentu saja dengan tidak merampas haknya untuk bermain.
  3. Pedulikan semua kegiatan anak, orangtua tidak cuek dengan kegiatan anak baik itu dilingkungan maupun disekolah,tanyakan:Tadi kakak atau ade belajar apa,bagaimana pelajarannya,mudah atau sukar, adakah peer atau tugas lainnya, bagaimana bapak ibu gurunya, bagaimana teman-temannya,,dan lain sebagainya, sudahkan itu dilakukan? Kalau itu senantiasa dilakukan,anak akan merasa dipedulikan,merasa diapresiasi,dan merasa selalu ada kontrol dari kedua orangtuanya hingga bisa meminimalisir untuk abai pada tugasnya sebagai pelajar.Saya untuk tahun pelajaran 2017-2018 ini, mempunyai 20 orang peserta didik,dari 20 orang peserta didik tersebut,hanya ada satu orangtua yang secara kontinyu menanyakan perkembangan anaknya,melalui nomor WhatsApp atau messenger yang telah saya bagikan: "Bagaimana Pak keadaan anak saya, bagaimana Pak prestasi akademik anak saya, bagaimana Pak dikelasnya, aktif apa tidak",dan pertanyaan lainnya.,begitulah seharusnya, saya senang mendengarnya,dan tidak menjadikan beban untuk menjawabnya,karena ditanyakan atau tidakpun, orangtua harus diberitahu perkembangan akademik anaknya.
  4. Bimbing anak dalam belajarnya dirumah,agar terarah,matikan dulu tivi atau radionya,jauhkan dulu hapenya,jangan anak disuruh belajar, sementara orangtuanya cuek dan tidak mempedulikannya.
Demikian mudah-mudahan bermanfaat,tidak bermaksud menggurui,hanya sedikit berbagi,kurang lebihnya mohon maaf!

Rabu, 06 Desember 2017

"TIPS DAN TRIK" MEMBANGKITKAN RASA PERCAYA DIRI PESERTA DIDIK

Pendahuluan
Ini pengalaman pribadi,6 tahun silam!
Saat itu seperti biasa,kegiatan rutin akhir tahun,guru kelas VI,selain mengolah nilai,ada kegiatan lainnya yang tidak kalah pentingnya,karena menyangkut keberlangsungan belajar peserta didik saya kejenjang selanjutnya,yaitu kejenjang Sekolah lanjutan tingkat pertama,yaitu pendataan peserta didik yang akan melanjutkan sekolah apabila nanti lulus dari Sekolah Dasar,saya bagikan formulirnya,untuk dibawa ke rumah,dan ditandatangani oleh orangtuanya.
Tiga hari kemudian format itu dikumpulkan,kemudian saya rekap,dan dikelompokkan sesuai pilihan sekolah yang diminatinya,ada yang mau melanjutkan ke MTs,Ke SMP Negeri,ke Ponpes terpadu,bahkan ada juga yang mau melanjutkan sekolah keluar Kabupaten.
Dari 32 peserta didik saya,ada 2 0rang yang tidak mengisi formulir tersebut,ni anak kenapa...?Berbagai pertanyaan berkecamuk:Apa orangtuanya tidak mendukung,apa orangtuanya tidak faham dengan kewajibannya,padahal saya selaku wali kelas,telah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan orangtua siswa,dan selalu mengedukasi mereka tentang pentingnya pendidikan dan tentang wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun,
Berangkat dari masalah itulah,lalu saya eksplor lebih dalam tentang masalah kedua anak tersebut,dengan langkah-langkah,langkah sebagai berikut:

1.Kunjungan rumah (Home visit)
Home visit adalah salah satu tehnik pengumpulan data dengan jalan mengunjungi rumah siswa untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk melengkapi data siswa yang sudah ada yang diperoleh dengan tehnik lain (ws.winkel,1995:70).Berdasarkan itu,saya mengadakan home visit dengan tujuan mencari tahu dari kedua orangtua siswa tersebut,ada beberapa poin yang dapat saya simpulkan dari pertemuan itu,bahwa pada dasarnya,kedua orangtua tersebut mengizinkan dan mendukung sekali jika anaknya mau meneruskan sekolah.Kemudian saya tanyakan,kenapa anaknya tidak mau meneruskan sekolah jika memang kedua orangtuanya mendukung,dalam hal pertanyaan itu,mereka tidak bisa menjawab,karena keduanya anak tersebut,tidak menjawab ketika oleh mereka ditanya,penelusuran saya buntu,tidak menemukan jawaban yang diharapkan dari kedua orangtua tersebut.
2. Wawancara dengan siswa
Berbekal jawaban yang belum tuntas dari kedua orangtua siswa saat home visit,kemudian saya mengadakan wawancara dengan kedua anak tersebut,saya ajak bicara satu persatu,dituangkan kelas,tentu saja dengan terlebih dahulu,mengosongkan jelas,ntuk melindungi Privat mereka,agar terhindar dari rasa malu dan menjadi pusat perhatian teman yang lain,kebetulan saat itu anak yang lain sedang mengikuti mata pelajaran PJOK dilapangkan Desa,saya minta izin terlebih dahulu kepada guru bidangnya.Pertanyaan kepada kedua anak tersebut,hanya seputar,kenapa mereka tidak mau melanjutkan sekolah,dan saya beritahukan kepada mereka hasil kunjungan rumah,bahwa ternyata kedua orangtuanya,sangat mengharapkan mereka melanjutkan sekolah.Susah payah saya membujuk mereka agar mau berbicara,dan...akhirnya,mereka mau menjawab pertanyaan itu,dan jawaban keduanya sama,bahwa mereka sebenarnya mau melanjutkan sekolah,hanya mereka merasa:
  • Malu
  • Takut diejek teman pada saatnya nanti di SMP 
 Apa yang menjadikan malu dan takut yang membayangi mereka,saya tidak perlu bertanya lagi pada mereka,karena saya tahu sejak awal akan kekurangan mereka, (mohon maaf,tidak bermaksud mengeksploitasi kekurangan mereka,karena guru sejak awal mesti tahu karakteristik siswanya,baik kekurangan maupun kelebihannya).ini yang menurut kedua siswa tersebut adalah kekurangan mereka:
  1. Siswa yang satu  memiliki cacat bawaan berupa cleft pallate atau sumbing bibir sehingga kalau berbicara agak sengau
  2. Kemudian siswa yang satu memiliki kekurangan (menurut mereka) pada areal mata,sehingga kalau membaca itu jaraknya harus dekat sekali,bukunya ditarik dan ditempel kemukanya.
Berbasis dai jawaban yang mereka sampaikan,kemudian saya simpulkan,bahwa,mereka tidak mau melanjutkan sekolah itu karena kurang percaya diri dengan keadaannya.Akhirnya,pertanyaan yang berkecamuk itu,terjawab dengan komunikasi yang baik,tugas saya sebagai guru belum selesai sampai disitu,saya masih punya tugas berat untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka.

3.Membangkitkan rasa percaya diri peserta didik
Menelisik jawaban kedua siswa tersebut diatasi,maka saya ambil langkah&langkah untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka,diantaranya:
  1. Menanamkan pemahaman bahwa tidak ada manusia yang sempurna,selalu saja ada kekurangan yang dilihat oleh orang lain
  2. Menanamkan rasa ikhlas menerima keadaan yang diberikan Allah sang pencipta,dan mensyukurinya.
  3. Memberi pemahaman pada mereka,bahwa,banyak orang disekelilingnya kita yang lebih menderita,ada yang hanya mempunyai satu kaki,satu tangan,bahkan tidak memiliki kaki dan tangan sama sekali,tapi mereka tetap tabah dan bersabar.
  4. Memotivasi mereka,dengan memutarkan video atau film kisah-kisah insfiratif dari kaum disabilitas,bahwa kekurangan bukan penghalang untuk berjuang,bukan halangan untuk berprestasi,dan lain sebagainya.
  5. Memberikan pemahaman bahwa sarat  berprestasi itu  bukan fisik harus sempurna,tetapi kemauan dan tekad.
  6. Memotivasi mereka untuk menunjukan diri kepada dunia,bahwa kekurangan mereka menjadi kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Dan....akhir perjuangan itu,mereka mau melanjutkan sekolah,kini rasa percaya diri mereka yang sempat kandas,telah bangkit,dan memotivasi mereka untuk berprestasi,dan...terbukti mereka kini menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya,giat mengikuti segala jenis kegiatan disekolahnya,siswa tersebut,kimi, telah mendekati ujian akhir disebuah SMA dan SMK,terakhir kali bertemu,mereka menyalami saya dan ketika saya tanya akan melanjutkan kemana LEPAS SMK nanti,katanya entah mau kuliah atau Daftar Tentara,kemampuan dia,kebanggaan ini tetap ada bahwa sampai terakhir bertemu,dia masih Percaya Diri ,(Pede),dengan dirinya.
Untuk siswa yang satu lagu,itupun sama,mendekati ujian akhir disebuah SMA,dan terakhir ketemu,ketika,saya mengundangnya pada acara Lomba Tingkat 1,dan...saat itu dia mengeluarkan testimoni bahwa seandainya dulu tidak termotivasi untuk melanjutkan sekolah,mungkin saya tidak akan seperti ini."Terimakasih Pak",kata dia mengakhiri obrolannya.

Demikian pengalaman ini saya jadikan sebuah artikel,mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi.


Senin, 04 Desember 2017

CARA MENGATASI ANAK YANG "MAGER"


Pendahuluan
Mager?
Malas gerak yang saya maksudkan,biar kekinian penyebutannya,itu merupakan istilah kids zaman now,yang biasa dipergunakan ketika mereka malas gerak atau  malas  bepergian  kemana-mana,dan...saya meminjam istilah mereka untuk digunakan sebagai sebutan bagi peserta didik kita yang malas berangkat kesekolah.
Sebagian bapak ibu guru,mungkin pernah mengalami ada peserta didik yang malas ketika saatnya pergi kesekolah,ini dominasinya terjadi pada peserta didik baru pada tahun ajaran baru,tetapi tidak menutup kemungkinan,terjadi juga pada peserta didik yang lebih tinggi,misalnya dari kelas 2 sampai kelas 6.
Nah,ketika hal itu terjadi,tentu bukan semata tanggungjawab orangtuanya,guru pun bertanggungjawab untuk memberikan saran dan masukan,serta trik-trik atau strategi khusus untuk menghadapinya.
Langkah yang harus dilakukan seorang guru,diantaranya sebagai berikut:
A.Analisis akar permasalahannya
Dalam menganalisis akar masalah ketika peserta didik malas berangkat kesekolah,tentu harus bekerjasama dengan orangtua peserta didik tersebut,tanyakan:
  • Apa alasan yang relevan sehingga anaknya terkena sindrom malas berangkat sekolah
Dalam hal,ingin mengetahui,alasan kenapa tidak mau berangkat kesekolah,tentu memerlukan pendekatan yang spesifik mengingat usia sikecilkan yang masih terlalu dini untuk berbicara dengan lantang,mengemukakan alasannya kenapa dia malas kesekolah,perlu jurus jitu agar sikecil mau berbicara,misalnya dengan rayuan manis,janji manis atau metode lainnya,saya yakin orangtua lebih faham bagaimana membujuk anak.,misalkan,setelah melalui proses negoisasi yang panjang,dengan metode bujuk rayunya tingkat tinggi,diperolehlah alasan kenapa sikecil malas berangkat sekolah,diantaranya: 
  1. Takut sama teman mamah",nah...alasan seperti ini,biasanya terjadi pada anak yang super sensitive,anak menjadi takut,walau sekedar ditakut-takuti oleh anak yang lebih dominan dikelas barunya tersebut,atau hanya sekedar diolok-olok,kemudian akan menjadi hal yang luar biasa dan menimbulkan mood nya down untuk pergi lagi ke sekolahan.
  2. Takut Sama gurunya,mungkin dalam pandangan orang dewasa atau orang lain,gurunya nampak baik-baik saja dan tidak bermasalah,tapi dipandangan sikecil bisa saja mengundang masalah,dia tidak merasa cocok dengan gurunya,sehingga batinnya menolak keberadaan  gurunya,bahkan candaan sekecil apapun bisa jadi masalah.
  3. Belum punya teman akrab,mungkin yang dia maksud adalah teman yang mengerti dan memahami dia,menurut versinya,padahal kan teman sekelasnya banyak,tapi dia mungkin belum menemukan teman yang satu selera dengannya.
  4. Sakit,ini alasan klasik,jika anak tidak mau sekolah,tapi terlepas dari benar atau tidaknya,alasan tersebut perlu ditanggapi dengan serius.
  5. Tidak mau berpisah dengan ibu,ini sering terjadi ketika bel masuk berbunyi,dia tidak masuk kelas,kalau ibunya tidak ikut masuk,maunya ditungguin sampai akhir pelajaran.
B.Saran untuk mengatasinya
Ada beberapa saran dan masukan untuk mengatasinya,sesuai dengan hasil analisis akar masalahnya,diantaranya yaitu:
  1. Jika peserta didik takut pada temannya,maka orangtua harus mengkomunikasikannya dengan bapak atau ibu gurunya,dan bapak atau ibu guru,harus menerima masukan dari orangtua peserta didik,lalu mengambil langkah serta pendekatan,untuk mengatasi ketakutan peserta didik tersebut,misal dengan memberikan pemahaman sedikit demi sedikit sesuai kapasitas pemikirannya sikecil,bahwa semua temannya itu baik-baik,ajaklah peserta didik secara berkala mengenal teman barunya,mengakrabkannya dengan berbagai cara,baik melalui permainan berkelompok maupun dengan  cara menanamkan rasa percaya dirinya agar secara perlahan mampu mengatasi rasa takutnya tersebut,kemudian sikap orangtua dirumahnya juga harus pro aktif,bersama-sama dengan guru,berupaya mengatasi rasa takut anaknya sama temannya tersebut,bisa dengan cara mengajak bermain bersama dirumahnya,agar anak menjadi akrab,serta memberi pemahaman untuk saling menyayangi antar sesama teman.
  2. Jika takut sama gurunya,hal ini juga sama,harus dikomunikasikan dengan guru yang bersangkutan,agar guru mengetahui,memaklumi dan dapat mengadakan pendekatan sebagai langkah persuasif untuk mengurangi rasa takut peserta didik tersebut kepadanya.
  3. Jika masalahnya belum punya teman akrab,tugas guru disekolah mengenalkan,dan mengakrabkan semua peserta didik,lebih husus bagi peserta didik yang mempunyai masalah dalam bersosialisasi,begitupun tugas orangtua dirumahnya,beri kesempatan anak untuk bersosialisasi melalui kegiatan bermain dengan teman sebaya dilingkungannya.
  4. Jika masalahnya sakit,segera bawa kepihak medis,jika memang sakitnya perlu penanganan medis,mudah-mudahan setelah ditangani,mood untuk sekolahnya kembali bangkit.
  5. Jika masalahnya tidak mau berpisah dengan orangtua dan selalu ditungguin didalam kelas,masalah ini bisa berat bisa ringan,dalam arti bahwa penanganan masalah ini tidak semudah membalik telapak tangan,ada pengalaman rekan kerja,yang selama satu tahun ajaran,peserta didiknya selalu ditungguin didalam kelas,berbagai upaya telah dilakukan oleh beliau sebagai guru kelas satu,namun hasilnya selalu nihil,bahkan hanya sekedar menyuruh ibunya untuk perlahan-lahan menunggunya diluar kelas,malah nangis dan tidak mau mengikuti kegiatan belajar mengajar,saya coba membantu guru kelas 1 tersebut dengan harapan,bisa mengatasinya,saya komunikasi dengan orangtuanya sebelum bel masuk berbunyi dan katanya,takut ditinggal mamahnya pergi,karena sebelum anak tersebut disekolahin,ibunya mengakui pernah kerja diluar kota dan menitipkan anaknya pada sang nenek,berangkat dari keterangan itulah,saya mengadakan pendekatan kepada anak tersebut,sambil berseloroh,kumasukkan pemahaman sederhana tentang tugas orangtua yang mencari nafkah untuk jajannya,untuk membeli pakaiannya,mainannya,dan sebagainya,itu dilakukan secara kontinyu,dengan harapan ada sedikit pencerahan sesuai pola pikirnya,dan pada kesempatan yang tidak terduga,sang anak berkata,bahwa nanti kalau sudah kelas dua,dia janji tidak akan diantar dan ditungguin sama mamah katanya,saya sambut janji sikecil,yang keluar dari mulut mungilnya tanpa paksaan,kemudian saya beri pencerahan tambahan,bahwa janjinya adalah janji sama Allah yang harus ditepati,insyaallah dia faham dan mengerti tentang Allah,walaupun dalam pengertian yang sederhana sesuai perkembangan pola pikirnya saat ini,dan setiap ada kesempatan,saya selalu selorohin dia dengan kata-kata:"ingat ya....janji kakak",sikecil hanya tersenyum jika saya bercandain seperti itu,dan...tibalah saat itu,kini dia kelas 2,dan...benarlah,dia tidak diantar dan ditungguin lagi,alhamdulilah....penantian yang panjang.
Demikian,semoga bermanfaat,kurang lebihnya mohon maaf!