Lentera Kecil di Sudut Kelas
Suara gemuruh hujan mengguyur atap sekolah ketika aku menyusuri koridor belakang. Langkahku terhenti saat melihat Budi sedang duduk di sudut tangga yang redup. Kakinya yang telanjang dilipat rapat, sementara jemarinya dengan cekatan merapikan kantong-kantong plastik berisi keripik. Di sampingnya, sepasang sepatu hitam yang kusam dan terkelupas tersimpan rapi di dalam tas plastik bening.
"Budi? Kenapa belum pulang? Hujan deras begini, nanti kamu sakit," sapaku sambil menghampirinya.
Budi terkejut, lalu buru-buru berdiri dan menunduk sopan. "Eh, Bapak... Niatnya mau langsung pulang, Pak. Tapi menunggu hujannya sedikit reda dulu sambil merapikan keripik jualan Ibu."
"Sepatumu sengaja dilepas?" tanyaku menunjuk kantong plastik di dekat kakinya.
Ia tersenyum tipis, tampak agak malu. "Iya, Pak. Sepatu ini tinggal satu-satunya. Kalau basah kuyup kena hujan, besok tidak bisa dipakai sekolah karena susah keringnya."
Dada rasanya sesak mendengar jawabannya yang begitu polos. "Setiap hari setelah sekolah kamu berjualan keripik, Budi?"
"Iya, Pak," jawabnya jujur sambil mengangguk pelan. "Lumayan untuk bantu-bantu Ibu beli beras dan kelanjutan biaya berobat Adik. Tapi Budi usahakan kelilingnya cepat kok, Pak, supaya malamnya tetap bisa belajar."
Aku menepuk bahunya dengan lembut, kehabisan kata-kata atas keteguhan hatinya. "Kamu anak yang luar biasa, Budi. Tapi ingat kesehatanmu juga, ya. Jangan sampai terlalu lelah."
"Pasti, Pak. Terima kasih banyak," balasnya tulus.
Beberapa minggu kemudian, suasana kelas mendadak riuh saat aku membagikan hasil ujian akhir semester. Setelah memberikan apresiasi singkat atas kerja keras anak-anak, aku mengumumkan pemilik nilai tertinggi di kelas.
"Nilai tertinggi semester ini diraih oleh... Budi."
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Budi sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya berdiri dan berjalan maju ke depan kelas dengan langkah yang tenang.
"Selamat, Budi. Nilaimu hampir sempurna di semua mata pelajaran," ucapku seraya menyerahkan lembar hasilnya.
Ia menerima kertas itu dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Pak... Budi tidak menyangka."
"Bapak tahu perjuanganmu tidak mudah. Di saat kamu harus bekerja dan menjaga adikmu, kamu tetap memberikan yang terbaik untuk belajar. Bapak sangat bangga padamu," kataku penuh rasa haru.
Budi menunduk dalam-dalam. "Ini semua karena bimbingan Bapak. Terima kasih sudah selalu sabar mengajar kami, tidak pernah membeda-bedakan, dan selalu memberi Budi semangat."
Aku tersenyum hangat lalu menepuk pelan pundaknya. "Justru Bapak yang harus berterima kasih padamu, Budi. Dari kamu, Bapak belajar banyak hal tentang arti perjuangan yang sesungguhnya."
