Ukiran Pena dan Gemerlap Piala di Cipeundeuy
Suasana sore di sekolah terasa hangat. Suara coretan pulpen di atas kertas dan derak cermin yang digeser mengisi ruang latihan. Sebagai seorang guru, tak ada kebanggaan yang lebih besar daripada melihat semangat anak-anak didik melestarikan bahasa ibu mereka sendiri.
Semua berawal saat pengumuman Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 Tingkat Kecamatan Cipeundeuy resmi dirilis. Waktu latihan kami terasa singkat menuju hari pelaksanaan pada 6 April 2026 yang digelar di Komplek SD Margalaksana. Hari-hari usai jam sekolah kami isi dengan latihan intensif. Tatang dan Kanza fokus mengasah alur carpon, Dzaky melatih kelancaran intonasi biantara, sementara Albi, Selamet, dan Raheysa terus memantapkan persiapan di cabang masing-masing.
Pagi yang ditunggu akhirnya tiba. Komplek SD Margalaksana dipenuhi riuh ratusan peserta se-Kecamatan Cipeundeuy. Rasa gugup sempat melanda, tetapi rangkulan hangat dan doa bersama sebelum tampil berhasil mengembalikan rasa percaya diri mereka. Satu per satu anak didik saya tampil membawakan yang terbaik di atas panggung.
Ketegangan mencapai puncaknya saat sesi pengumuman kejuaraan dimulai. Sorak bahagia pecah berulang kali saat nama anak-anak dipanggil ke panggung. Pada cabang Nulis Carpon, Tatang Saprudin (kelas 4) dan Kanza Aghni Syafeea (kelas 5) tampil luar biasa dengan meraih Juara 1 putra dan putri. Di cabang Biantara, Dzaky Putra Andrian (kelas 4) menyabet Juara 1 putra, disusul Zahra Yupi Aziziyah (kelas 5) yang meraih Juara 2 putri.
Keberhasilan makin lengkap dengan torehan prestasi dari cabang lain: Selamet Rahman Mulyadi (kelas 4) meraih Juara 2 putra dan Raheysa Khalista Rabbani (kelas 5) meraih Juara 3 putri pada cabang Borangan, serta Albi Putra Lesmana (kelas 4) yang mengamankan Juara 3 putra di cabang Maca Sajak.
Total 8 piala berhasil diborong pulang hari itu. Isak haru dan rasa bangga membuncah, terutama saat Tatang, Kanza, dan Dzaky resmi ditetapkan sebagai perwakilan Kecamatan Cipeundeuy untuk melangkah ke FTBI tingkat kabupaten. Perjuangan memang belum selesai, tetapi hari itu di SD Margalaksana, nyala kecintaan pada bahasa ibu telah terpatri indah di jiwa mereka.




