Sabtu, 10 Oktober 2026

#10.Sebuah Perjalanan

 


Mesin Boleh Panas, Semangat TARULIS Tak Pernah Padam



1. Panggilan Berharga di Akhir September

Tanggal 22 September 2025 menjadi salah satu momen penting bagi kami. Sebuah surat resmi dari SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) mendarat dengan kabar membanggakan. Kami diundang untuk menghadiri The 16th Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL). Simposium internasional yang mengusung tema "Shaping Future Generations: Exploring the Impact of Technology-Enhanced Language Teaching on Literacy and Character Development" ini digelar secara hybrid, dan kami berkesempatan hadir secara luring.

Antusiasme menyelimuti Komunitas Guru Penulis Kecamatan Cipeundeuy (TARULIS). Sebanyak enam orang wakil rombongan disiapkan untuk berangkat menuju lokasi acara di Hotel Hilton Bandung pada Kamis, 2 Oktober 2025. Bagi kami, ini bukan sekadar menghadiri simposium, melainkan ruang belajar untuk membawa pulang gagasan baru tentang teknologi, literasi, dan pembentukan karakter peserta didik.Berikut link undangan AISOFOLL:
https://canva.link/jxovuj10jsizwac

2. Deru Perjalanan dan Semangat Pagi

Pagi hari tanggal 2 Oktober 2025, rombongan TARULIS sudah bersiap. Senyum ceria dan perbincangan hangat memenuhi kabin mobil sejak roda mulai berputar meninggalkan Cipeundeuy. Kami saling melempar diskusi ringan mengenai topik-topik teknologi pembelajaran bahasa yang akan dipaparkan oleh para ahli nanti.

Lalu lintas pagi itu relatif lancar. Harapan kami sederhana: tiba di Jalan HOS Tjokroaminoto tepat waktu, duduk menyimak paparan, dan menyerap sebanyak mungkin ilmu.


 

3. Drama di Tol Baros: Ketika Indikator Suhu Memuncak

Namun, setiap perjalanan besar selalu punya ceritanya sendiri. Saat mobil kami melaju mendekati Pintu Keluar Tol Baros, Cimahi, hal yang paling dihindari pengendara terjadi.

Jarum indikator suhu mesin mendadak melonjak naik hingga ke titik merah. Tak lama kemudian, kepulan uap dan asap tipis mulai keluar dari balik kap mesin. Mobil kami mengalami overheat.

Mobil terpaksa kami pinggirkan di dekat area keluar tol. Suasana yang tadinya penuh tawa mendadak berubah tegang. Waktu terus berjalan mendekati jadwal pembukaan acara di Hilton Bandung, sementara kendaraan kami benar-benar lumpuh dan tidak aman untuk dipaksa jalan.


4. Keputusan Cepat dan Penyelamat Berbasis Aplikasi

Di tengah situasi panik, keputusan tegas harus diambil. Mengingat nama komunitas dan amanah ilmu yang kami bawa, kami tidak boleh menyerah pada keadaan.

Mobil akhirnya kami amankan dan tinggalkan sementara di lokasi tersebut. Dengan sigap, kami memesan armada transportasi online (Grab) untuk mengangkut seluruh rombongan yang berjumlah enam orang.

Begitu mobil Grab datang, rasa lega mulai mengalir. Di dalam perjalanan lanjutan dari Cimahi menuju Bandung, ketegangan perlahan mencair menjadi tawa kecil. Kami saling menguatkan bahwa "perjuangan pendidik untuk menuntut ilmu memang selalu diberi bumbu cerita unik."


5. Melangkah Tegak di Hilton Bandung

Perjuangan itu terbayar lunas. Kami tiba di Hotel Hilton Bandung tepat waktu. Langkah kaki rombongan TARULIS memasuki ruang simposium dengan penuh rasa syukur dan bangga.


Sepanjang acara AISOFOLL ke-16, kami menyimak berbagai paparan inspiratif tentang bagaimana teknologi dapat memperkuat literasi dan karakter generasi mendatang. Hambatan mesin mobil yang panas di Tol Baros tadi pagi seolah tak ada artinya dibandingkan hangatnya semangat kebersamaan dan melimpahnya ilmu yang kami dapatkan hari itu.




6.Refleksi Akhir

Pengalaman hari itu mengajarkan kami satu hal: rintangan fisik di jalanan tidak akan pernah menyurutkan langkah para guru yang haus akan kemajuan. Mesin mobil boleh saja overheat, tetapi semangat Komunitas Guru Penulis Kecamatan Cipeundeuy (TARULIS) untuk terus belajar dan berkarya akan tetap menyala!

Jumat, 09 Oktober 2026

#9.Pengalaman Mengajar yang Berkesan

 

Ukiran Pena dan Gemerlap Piala di Cipeundeuy

Suasana sore di sekolah terasa hangat. Suara coretan pulpen di atas kertas dan derak cermin yang digeser mengisi ruang latihan. Sebagai seorang guru, tak ada kebanggaan yang lebih besar daripada melihat semangat anak-anak didik melestarikan bahasa ibu mereka sendiri.

Semua berawal saat pengumuman Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 Tingkat Kecamatan Cipeundeuy resmi dirilis. Waktu latihan kami terasa singkat menuju hari pelaksanaan pada 6 April 2026 yang digelar di Komplek SD Margalaksana. Hari-hari usai jam sekolah kami isi dengan latihan intensif. Tatang dan Kanza fokus mengasah alur carpon, Dzaky melatih kelancaran intonasi biantara, sementara Albi, Selamet, dan Raheysa terus memantapkan persiapan di cabang masing-masing.

Pagi yang ditunggu akhirnya tiba. Komplek SD Margalaksana dipenuhi riuh ratusan peserta se-Kecamatan Cipeundeuy. Rasa gugup sempat melanda, tetapi rangkulan hangat dan doa bersama sebelum tampil berhasil mengembalikan rasa percaya diri mereka. Satu per satu anak didik saya tampil membawakan yang terbaik di atas panggung.

Ketegangan mencapai puncaknya saat sesi pengumuman kejuaraan dimulai. Sorak bahagia pecah berulang kali saat nama anak-anak dipanggil ke panggung. Pada cabang Nulis Carpon, Tatang Saprudin (kelas 4) dan Kanza Aghni Syafeea (kelas 5) tampil luar biasa dengan meraih Juara 1 putra dan putri. Di cabang Biantara, Dzaky Putra Andrian (kelas 4) menyabet Juara 1 putra, disusul Zahra Yupi Aziziyah (kelas 5) yang meraih Juara 2 putri.

Keberhasilan makin lengkap dengan torehan prestasi dari cabang lain: Selamet Rahman Mulyadi (kelas 4) meraih Juara 2 putra dan Raheysa Khalista Rabbani (kelas 5) meraih Juara 3 putri pada cabang Borangan, serta Albi Putra Lesmana (kelas 4) yang mengamankan Juara 3 putra di cabang Maca Sajak.

Total 8 piala berhasil diborong pulang hari itu. Isak haru dan rasa bangga membuncah, terutama saat Tatang, Kanza, dan Dzaky resmi ditetapkan sebagai perwakilan Kecamatan Cipeundeuy untuk melangkah ke FTBI tingkat kabupaten. Perjuangan memang belum selesai, tetapi hari itu di SD Margalaksana, nyala kecintaan pada bahasa ibu telah terpatri indah di jiwa mereka.

Kamis, 08 Oktober 2026

#8.Teknologi Dalam Kehidupan Saya

 

Jejak Digital di Balik Ruang Kelas


Layar laptop di hadapanku menyala terang, memantulkan angka jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam. Di atas meja, tumpukan kertas modul dan lembar tugas murid masih menggunung. Jujur saja, puluhan tahun mengajar dengan kapur dan buku cetak membuat jemariku terasa kaku setiap kali harus berhadapan dengan papan ketik ini. Ada keraguan yang selalu membisik di kepala: apakah teknologi benar-benar bisa membawa kehangatan ke dalam ruang kelas?

Semua berawal ketika tuntutan kurikulum anyar mewajibkan penyusunan materi pembelajaran berbasis digital. Awalnya, aku merasa keteteran. Mengolah media visual, merancang kuis interaktif, hingga merapikan administrasi rasanya menyita begitu banyak waktu. Aku sempat khawatir, keberadaan teknologi justru akan membuat jarak antara aku dan murid-muridku.

Suatu sore, aku memberanikan diri mengeksplorasi sebuah program kecerdasan buatan untuk membantu merancang media pembelajaran visual. Aku mencoba memasukkan ide-ide materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, lalu menyusunnya menjadi lembar belajar yang penuh warna dan gambar yang hidup. Saat melihat hasilnya tercetak rapi, ada percik semangat baru yang mengalir di dadaku.

Keesokan harinya di ruang kelas, aku membagikan hasil rancangan tersebut. Suasana yang biasanya hening berubah seketika. Mata anak-anak berbinar melihat tampilan visual yang segar dan interaktif. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur alami dari mulut mereka. Pembelajaran hari itu terasa begitu hidup dan menyenangkan.

Saat berdiri di depan kelas melihat antusiasme mereka, sebuah kesadaran hangat menyergapku. Teknologi ternyata bukanlah ancaman yang akan menggantikan peran guru. Ia hanyalah sebuah jembatan,sebuah alat bantu yang jika dipegang dengan ketulusan, mampu melipatgandakan kreativitas dan jangkauan kebaikan.

Malam ini, tatkala jemariku lincah menari di atas papan ketik menyusun modul berikutnya, aku tersenyum. Pengabdian panjang yang telah kutempuh tidak pernah usai, ia hanya sedang menemukan bentuk dan warna barunya di era digital.

Rabu, 07 Oktober 2026

#7.Mengapa Guru Perlu Menulis

 

Jejak Pena di Ujung Senja


Lonceng sekolah baru saja berbunyi tiga kali, menandakan jam pulang sekolah telah tiba. Di sebuah SD negeri, suasana ruang guru mulai lengang. Hanya tersisa tumpukan buku latihan bergambar dengan tumpukan tugas mewarnai dan papan tulis kecil di sudut ruangan.

Pak Rahmad, seorang guru senior yang sudah mengajar anak-anak kelas empat selama dua dekade, menyandarkan tubuhnya di kursi kayu. Ia menghela napas panjang sembari menatap tumpukan kertas ujian di mejanya. Wajahnya tampak lesu.

"Kenapa, Pak Rahmad? Kelihatannya capek banget sore ini," sapa Bu Arini, guru muda kelas dua yang duduk di seberang mejanya.

"Bingung aku, Rin," panggil Pak Rahmad santai. "Anak-anak sekarang kok kayak makin susah disuruh fokus ya? Metode dongeng sama panggung boneka yang biasanya aku pake dari dulu, sekarang malah bikin mereka bosan. Apa akunya yang udah ketinggalan zaman?"

Bu Arini tersenyum tipis. Jari-jemarinya masih sibuk menari di atas kibor laptop. "Anak-anak zaman sekarang kan dikelilingi informasi yang cepat, Pak. Kalau gaya mengajar kita gitu-gitu aja, ya pasti mereka cepat bosan."

"Tapi kamu kok santai banget? Laporan kelas udah kelar, malah asyik ngetik dari tadi. Lagi ngerjain apa sih?" tanya Pak Rahmad penasaran.

"Ini lagi nulis artikel singkat tentang metode storytelling digital buat anak SD, Pak. Sekalian cerita pengalaman unik pas ngajar anak-anak tadi pagi," jawab Bu Arini sambil memutar layar laptopnya sedikit.

Pak Rahmad mengernyitkan dahi. "Untuk apa repot-repot nulis, Rin? Ngurusin modul ajar, meriksa PR anak-anak, sama ngadepin kelakuan ajaib mereka tiap hari kan udah bikin pusing. Buat apa nambah beban?"

Bu Arini terkekeh pelan, lalu merapikan posisi duduknya. "Justru dengan nulis, pusingnya malah hilang, Pak. Saat aku mau nulis satu artikel pendek aja, aku terdorong buat membaca buku baru, nyari jurnal pendidikan anak usia dini, dan nyari tahu strategi mengajar yang lagi efektif. Menulis itu 'memaksa' kita buat menambah wawasan. Kalau kita cuma ngandalin ingatan materi sepuluh tahun lalu, wawasan kita bakalan jalan di tempat."

Pak Rahmad terdiam. Ucapan Bu Arini tepat menampar kesadarannya. Memang benar, sudah bertahun-tahun ia tidak pernah membeli atau membaca buku metode pembelajaran baru. Ia hanya mengulang pola yang sama setiap tahun.

"Lagipula, Pak," lanjut Bu Arini pelan, "aku selalu ingat pesan Ki Hajar Dewantara. Beliau pernah bilang, 'Jadilah guru yang sepanjang hidupnya terus belajar, agar apa yang diajarkan tidak pernah mati oleh waktu.'"

Bu Arini menatap Pak Rahmad hangat. "Menulis itu cara paling nyata buat kita terus belajar, Pak. Saat kita nulis, kita lagi mengikat ilmu dan memperbarui cara berpikir kita. Biar apa yang kita sampaikan ke anak-anak SD ini tetap hidup dan relevan sama zaman mereka."

Kata-kata itu terngiang di telinga Pak Rahmad. Ia memandangi tumpukan buku cerita anak di sudut meja kerjanya, lalu beralih menatap laptopnya yang sejak tadi mati. Ada rasa hangat yang pelan-pelan tumbuh di dadanya—rasa rindu akan semangat mengajar yang dulu pernah membara.

Pak Rahmad menekan tombol daya di laptopnya. Layar menyala terang.

"Rin," panggil Pak Rahmad sambil tersenyum tipis. "Ajarin aku cara memulainya. Aku mau nulis refleksi tentang anak-anak hari ini."

Sore itu, di ruang guru SD yang sederhana, Pak Rahmad mulai mengetik kalimat pertamanya. Ia sadar, untuk tetap menjadi pelita bagi murid-muridnya, ia harus terlebih dahulu menyalakan kembali api belajar dalam dirinya sendiri.

#10.Sebuah Perjalanan

  Mesin Boleh Panas, Semangat TARULIS Tak Pernah Padam 1. Panggilan Berharga di Akhir September Tanggal 22 September 2025 menjadi salah satu...