Senin, 12 Oktober 2026

#12.Pelajaran dari Kehidupan

Dua Dekade di Balik Papan Tulis: Buah Manis Kesabaran Seorang Guru Honorer


Lonceng sekolah berdentang nyaring memecah keheningan pagi. Di ambang pintu kelas yang catnya mulai mengelupas, seorang pria paruh baya merapikan kerah seragamnya yang sudah tampak pudar. Namanya tidak tercetak dalam daftar gaji yang besar, dan dompetnya sering kali kosong sebelum akhir bulan tiba. Namun, setiap kali ia melangkah masuk dan mendengarkan koor riang anak-anak menyambutnya dengan ucapan, "Selamat pagi, Pak Guru," segala penat seolah runtuh seketika.

Dua puluh tahun sudah waktu berlalu sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di sekolah dasar sederhana itu sebagai seorang guru honorer.

1. Pijakan Niat di Ruang Kelas Sederhana

Dua puluh tahun lalu, pilihannya untuk mengabdi didasari oleh satu keyakinan sederhana: bahwa anak-anak di pelosok desa berhak mendapatkan ilmu dan masa depan yang cerah, terlepas dari seberapa besar honor yang diterimanya setiap bulan.

Di awal-awal pengabdian, amplop honor yang diterimanya sering kali hanya cukup untuk menutupi biaya bensin dan kebutuhan dapur selama beberapa hari. Untuk menyambung hidup, berbagai pekerjaan sampingan pernah ia lakoni selepas jam sekolah usai,mulai dari membantu di sawah hingga memberikan les tambahan dengan bayaran seikhlasnya.

Seiring berjalan waktu, zaman berganti. Rekan-rekan seangkatannya yang dulu sama-sama berjuang perlahan-lahan menemukan jalannya. Ada yang beralih profesi ke bidang swasta, ada pula yang lebih beruntung diangkat menjadi aparatur sipil negara dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Sementara ia tetap setia di sana, membersamai pergantian kurikulum, melatih generasi demi generasi, dan melihat silih berganti kepala sekolah memimpin instansi tempat ia mengabdi.

2. Ujian Panjang Kesabaran dan Titik Jenuh

Ada masanya keletihan mental menggerus semangat. Ketika kebutuhan keluarga semakin mendesak sementara usia terus merangkak naik, bisikan untuk menyerah dan meninggalkan dunia pendidikan sempat singgah. Di titik-titik jenuh itu, godaan untuk mencari ladang rezeki yang lebih menjanjikan secara materi terasa begitu nyata.

“Jika aku pergi, siapa yang akan membimbing mereka?”

Setiap kali ia hampir melangkah surut, ia melihat raut wajah murid-muridnya. Ada anak yang datang dengan sepatu robek namun memiliki mata yang berbinar-binar haus ilmu; ada pula yang perlahan berubah dari anak yang pemalu menjadi cerdas berkat bimbingannya. Ketulusan anak-anak itu menjelma menjadi jangkar yang menahannya untuk tetap bertahan di ruang kelas yang bersahaja.

3. Harapan yang Bersemi dan Titik Balik

Dua dekade berjalan dalam senyap, hingga akhirnya angin perubahan itu berhembus. Kebijakan pemerintah terkait penataan status tenaga honorer senior membuka secercah harapan yang telah lama padam. Bagi sebagian orang, itu barangkali berita biasa. Namun bagi seorang guru yang telah mendedikasikan separuh usianya di ruang kelas terpencil, kabar itu bagaikan titik air di tengah padang pasir yang tandus.

Ujian seleksi pun digelar. Di usia yang tidak lagi muda, tantangan terberat bukan lagi menguasai materi pelajaran, melainkan berpacu dengan sistem seleksi berbasis digital. Ada rasa cemas yang menggelayut di dada: "Apakah jerih payah dua dekade ini akan berbuah? Apakah jemari yang terbiasa memegang kapur ini mampu menaklukkan layar komputer dengan lancar?"

Malam-malam menjelang pengumuman dipenuhi oleh sujud yang lebih panjang dan doa-doa yang tulus dipanjatkan kepada Sang Pencipta. Ia menyerahkan seluruh ikhtiarnya pada takdir terbaik.

4. Buah Manis dari Kesabaran

Hari pengumuman itu tiba. Dengan jemari yang bergetar, ia memandangi deretan nama yang dinyatakan lolos. Di antara barisan teks digital tersebut, tercantum jelas namanya—sebuah pengakuan atas dua puluh tahun kesetiaan yang tak pernah surut.

Ketika Surat Keputusan (SK) Pegawai Negeri Sipil itu akhirnya berada di dalam genggamannya, tidak ada perayaan megah yang ia buat. Ia hanya duduk bersimpuh di ruang guru, menatap meja kayu tua tempat ia dulu memeriksa ribuan buku latihan siswanya dengan penuh ketekunan. Air mata haru menetes, bukan karena kebanggaan atas sebuah jabatan, melainkan sebagai wujud syukur yang amat dalam atas buah kesabaran yang ranum pada waktunya.

Keesokan harinya, ia kembali melangkah ke kelas dengan seragam cokelat baru yang melekat di tubuhnya. Senyum hangatnya masih sama seperti dua puluh tahun lalu.

Di hadapan murid-muridnya, ia membuktikan satu pelajaran hidup yang paling berharga: bahwa benih kebaikan yang disiram dengan kesabaran, ketulusan, dan keteguhan tidak akan pernah salah alamat dalam menemukan waktu terbaiknya untuk tumbuh.

Minggu, 11 Oktober 2026

#11.Orang yang Saya Kagumi

 


Dua Kompas di Hidupku: Ketegasan dan Ketulusan


Di dalam lemari ingatan saya, ada sebuah album tak kasat mata yang berisi potret masa kecil hingga dewasa. Jika saya membalik lembar demi lembar album itu, saya selalu menemukan dua figur sentral yang berdiri kokoh di setiap fase kehidupan saya: Ayah dan Ibu. Mereka berdua ibarat dua kutub magnet yang berbeda sifat, namun justru karena perbedaan itulah kompas kehidupan saya tertata dengan sempurna.

Ayah adalah seorang pekerja keras sejati. Beliau adalah sosok ulet yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam mencari nafkah. Sejak matahari belum menampakkan sinarnya hingga malam menjelang, langkah kakinya selalu tegap meninggalkan rumah demi memastikan anak-anaknya bisa makan dan mengenyam pendidikan. Namun, di balik etos kerjanya yang luar biasa, Ayah dikenal dengan pola didikan yang sangat keras.

Dulu, saat saya masih anak-anak dan remaja, saya sering kali tidak menyukai pola didikan itu. Bagi saya yang kala itu masih naif, didikan Ayah terasa kaku, penuh tuntutan, dan minim kompromi. Tidak ada toleransi untuk kemalasan, tidak ada alasan yang diterima untuk sebuah kecerobohan. Setiap kesalahan kecil langsung disambut dengan teguran tegas atau aturan ketat yang mengekang kebebasan bermain saya. Saya kerap bertanya-tanya di dalam hati, "Mengapa Ayah begitu keras pada kami? Apakah beliau tidak lelah terus-menerus menuntut kesempurnaan?"

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Saya tumbuh dewasa dan mulai melangkah keluar dari rumah untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya,dunia luar yang jauh lebih kejam dan penuh liku. Di situlah, badai demi badai kehidupan mulai menguji ketahanan mental saya. Ada saat-saat di mana kegagalan datang bertubi-tubi, dan tekanan hidup terasa menghimpit dada.

Pada titik-titik krisis itulah, saya mendadak tersadar. Didikan keras Ayah selama bertahun-tahun bukanlah bentuk kemarahan tanpa arah, melainkan sebuah tempaan. Ayah sedang menempa mental saya layaknya seorang pandai besi yang memukul besi panas berkali-kali agar menjadi pedang yang tajam dan kuat. Berkat didikan keras beliau, saya tumbuh menjadi pribadi yang bermental baja. Saya tidak mudah cengeng, tidak gampang menyerah saat menghadapi jalan buntu, dan memiliki ketahanan diri yang tangguh ketika hidup menghantam. Hari ini, setiap kali saya berdiri tegak menghadapi masalah berat, saya tahu di dalam tulang rusuk saya mengalir ketangguhan seorang Ayah.

Namun, di sisi lain dari ketegasan mutlak itu, ada samudra ketulusan yang meneduhkan: Ibu.

Jika Ayah adalah api yang menempa, maka Ibu adalah air penyejuk yang meredakan panasnya dunia. Ibu adalah sosok wanita paling sabar yang pernah saya kenal. Sepanjang hidupnya, saya tidak pernah melihat Ibu membentak, mengeluh dengan nada tinggi, atau membeda-bedakan kasih sayangnya di antara anak-anaknya.

Di mata Ibu, semua anaknya sama berharganya. Tidak ada anak emas atau anak tiri; semuanya mendapatkan porsi cinta, perhatian, dan belaian yang setara. Ketika kami berbuat salah, Ibu tidak langsung menghakimi dengan kemarahan. Beliau memilih duduk bersama, mendengarkan dengan sabar, lalu menasihati dengan kata-kata lembut yang meresap hingga ke lubuk hati. Ibu mengajarkan kepada kami arti keadilan yang sesungguhnya,bahwa kasih sayang sejati tidak pernah pilih kasih.

Ketika saya pulang ke rumah dengan hati yang lelah setelah seharian dihantam masalah di luar sana, rumah selalu menjadi tempat peraduan yang aman karena ada Ibu di sana. Pelukan hangatnya, senyumannya yang tulus, dan segelas air hangat yang disiapkannya selalu mampu mengembalikan kewarasan dan kekuatan saya. Dari Ibu, saya belajar arti kelembutan, empati, dan bagaimana cara memaafkan serta mencintai sesama tanpa syarat.

Kini, ketika saya melihat kedua orang tua saya yang rambutnya mulai memutih dan langkah kakinya tak lagi secepat dulu, dada saya bergemuruh oleh rasa syukur yang tiada tara. Saya menyadari bahwa kombinasi didikan mereka adalah anugerah terbesar dalam hidup saya.

Dari Ayah, saya belajar cara berjuang, bertahan, dan memiliki mental baja.
Dari Ibu, saya belajar cara berpikir bijak, bersabar, dan mencintai dengan adil.

Mereka berdua adalah kompas hidup saya. Didikan keras Ayah menyelamatkan saya dari kelemahan, sementara kelembutan Ibu menyelamatkan saya dari kebencian. Cinta mereka tidak selalu terucap lewat kata-kata manis, melainkan dibuktikan lewat peluh, air mata, dan kesabaran seumur hidup yang dicurahkan demi masa depan anak-anaknya. Kepada dua sosok inilah, seluruh hidup dan rasa hormat saya persembahkan.

Sabtu, 10 Oktober 2026

#10.Sebuah Perjalanan

 


Mesin Boleh Panas, Semangat TARULIS Tak Pernah Padam



1. Panggilan Berharga di Akhir September

Tanggal 22 September 2025 menjadi salah satu momen penting bagi kami. Sebuah surat resmi dari SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) mendarat dengan kabar membanggakan. Kami diundang untuk menghadiri The 16th Annual International Symposium of Foreign Language Learning (AISOFOLL). Simposium internasional yang mengusung tema "Shaping Future Generations: Exploring the Impact of Technology-Enhanced Language Teaching on Literacy and Character Development" ini digelar secara hybrid, dan kami berkesempatan hadir secara luring.

Antusiasme menyelimuti Komunitas Guru Penulis Kecamatan Cipeundeuy (TARULIS). Sebanyak enam orang wakil rombongan disiapkan untuk berangkat menuju lokasi acara di Hotel Hilton Bandung pada Kamis, 2 Oktober 2025. Bagi kami, ini bukan sekadar menghadiri simposium, melainkan ruang belajar untuk membawa pulang gagasan baru tentang teknologi, literasi, dan pembentukan karakter peserta didik.Berikut link undangan AISOFOLL:
https://canva.link/jxovuj10jsizwac

2. Deru Perjalanan dan Semangat Pagi

Pagi hari tanggal 2 Oktober 2025, rombongan TARULIS sudah bersiap. Senyum ceria dan perbincangan hangat memenuhi kabin mobil sejak roda mulai berputar meninggalkan Cipeundeuy. Kami saling melempar diskusi ringan mengenai topik-topik teknologi pembelajaran bahasa yang akan dipaparkan oleh para ahli nanti.

Lalu lintas pagi itu relatif lancar. Harapan kami sederhana: tiba di Jalan HOS Tjokroaminoto tepat waktu, duduk menyimak paparan, dan menyerap sebanyak mungkin ilmu.


 

3. Drama di Tol Baros: Ketika Indikator Suhu Memuncak

Namun, setiap perjalanan besar selalu punya ceritanya sendiri. Saat mobil kami melaju mendekati Pintu Keluar Tol Baros, Cimahi, hal yang paling dihindari pengendara terjadi.

Jarum indikator suhu mesin mendadak melonjak naik hingga ke titik merah. Tak lama kemudian, kepulan uap dan asap tipis mulai keluar dari balik kap mesin. Mobil kami mengalami overheat.

Mobil terpaksa kami pinggirkan di dekat area keluar tol. Suasana yang tadinya penuh tawa mendadak berubah tegang. Waktu terus berjalan mendekati jadwal pembukaan acara di Hilton Bandung, sementara kendaraan kami benar-benar lumpuh dan tidak aman untuk dipaksa jalan.


4. Keputusan Cepat dan Penyelamat Berbasis Aplikasi

Di tengah situasi panik, keputusan tegas harus diambil. Mengingat nama komunitas dan amanah ilmu yang kami bawa, kami tidak boleh menyerah pada keadaan.

Mobil akhirnya kami amankan dan tinggalkan sementara di lokasi tersebut. Dengan sigap, kami memesan armada transportasi online (Grab) untuk mengangkut seluruh rombongan yang berjumlah enam orang.

Begitu mobil Grab datang, rasa lega mulai mengalir. Di dalam perjalanan lanjutan dari Cimahi menuju Bandung, ketegangan perlahan mencair menjadi tawa kecil. Kami saling menguatkan bahwa "perjuangan pendidik untuk menuntut ilmu memang selalu diberi bumbu cerita unik."


5. Melangkah Tegak di Hilton Bandung

Perjuangan itu terbayar lunas. Kami tiba di Hotel Hilton Bandung tepat waktu. Langkah kaki rombongan TARULIS memasuki ruang simposium dengan penuh rasa syukur dan bangga.


Sepanjang acara AISOFOLL ke-16, kami menyimak berbagai paparan inspiratif tentang bagaimana teknologi dapat memperkuat literasi dan karakter generasi mendatang. Hambatan mesin mobil yang panas di Tol Baros tadi pagi seolah tak ada artinya dibandingkan hangatnya semangat kebersamaan dan melimpahnya ilmu yang kami dapatkan hari itu.




6.Refleksi Akhir

Pengalaman hari itu mengajarkan kami satu hal: rintangan fisik di jalanan tidak akan pernah menyurutkan langkah para guru yang haus akan kemajuan. Mesin mobil boleh saja overheat, tetapi semangat Komunitas Guru Penulis Kecamatan Cipeundeuy (TARULIS) untuk terus belajar dan berkarya akan tetap menyala!

#12.Pelajaran dari Kehidupan

Dua Dekade di Balik Papan Tulis: Buah Manis Kesabaran Seorang Guru Honorer Lonceng sekolah berdentang nyaring memecah keheningan pagi. Di am...