Kamis, 15 Oktober 2026

#15.Setengah Perjalanan:Apa yang Saya Rasakan

 

Menjaga Nyala di Titik Tengah: Cerita Jujur Setengah Jalan di KBMN

Kursor berwarna hitam itu berkedip-kedip di layar laptop yang temaram, seolah memanggil-manggil ide yang dari tadi berputar-putar di dalam kepala tanpa tahu harus bermuara ke mana. Di pojok kanan bawah layar, kalender digital menunjukkan bahwa saya telah sampai di Hari ke-15 dalam Tantangan 31 Hari Menulis Komunitas Belajar Menulis Nusantara. Setengah perjalanan sudah dilalui, tetapi duduk di depan laptop malam ini rasanya jauh lebih berat dibanding hari-hari pertama dulu.

Saya menyandarkan punggung pada kursi kerja, menghela napas panjang sambil menatap cangkir kopi yang sudah dingin di meja. Jika harus jujur menggambarkan apa yang saya rasakan malam ini, jawabannya adalah perasaan yang sangat campur aduk. Ada sejumput rasa bangga karena berhasil bertahan melewati lima belas hari tanpa pernah alpa menyetorkan tulisan. Namun di balik rasa bangga itu, ada lelah yang merayap diam-diam, disertai kebingungan mencari topik baru ketika stok ide rasanya sudah terkuras habis.

Suara bisikan ragu mulai bermunculan di kepala, mempertanyakan apakah tulisan-tulisan yang saya buat dengan bersusah payah setiap malam benar-benar memberi manfaat, atau sekadar memenuhi tenggat waktu harian. Di titik pertengahan ini, semangat yang menggebu-gebu di awal bulan seakan menguap, menggantinya dengan ujian ketahanan mental yang sebenarnya. Menulis bukan lagi sekadar menyalurkan ide, melainkan perjuangan menaklukkan rasa jenuh dan kelelahan fisik setelah beraktivitas seharian.

Tangan saya menggapai ponsel yang tergeletak di samping laptop lalu membuka grup percakapan KBMN. Di sana, notifikasi terus berdatangan tanpa henti. Beberapa teman membagikan tautan tulisan mereka, sementara beberapa yang lain menuliskan keluh kesah yang serupa: lelah, bingung mau menulis apa lagi, tetapi diakhiri dengan kalimat saling menyemangati bahwa tinggal setengah jalan lagi kita sampai di garis finis. Membaca pesan-pesan jujur dari sesama peserta membuat dada saya mendadak hangat.

Saya menyadari satu hal penting malam ini; rasa lelah dan buntu bukanlah tanda bahwa saya gagal, melainkan bukti bahwa proses bertumbuh memang membutuhkan perjuangan. Kita tidak sedang berjalan sendirian di lorong yang gelap, melainkan beriringan dengan ratusan jemari lain di seluruh penjuru Nusantara yang sama-sama sedang merawat konsistensi.

Saya memajukan posisi duduk, meletakkan kembali jemari di atas kibor, dan membiarkan kata-kata mengalir begitu saja tanpa menuntut kesempurnaan. Saya tidak lagi memikirkan teori yang rumit, melainkan menuliskan secara jujur apa yang berkecamuk di dalam hati malam ini tentang perjuangan menembus titik tengah. Begitu tombol publikasi diklik, sebuah rasa lega yang hangat menjalar di dada. Hari ke-15 tuntas, dan dengan sisa energi serta kebersamaan yang ada, saya yakin enam belas hari ke depan akan mampu dilalui hingga akhir.

Rabu, 14 Oktober 2026

#14.Ketika Saya Hampir Menyerah

 

Menaklukkan Badai di Kepala


Malam di Lembah Ancala menjelma menjadi telaga sunyi yang dingin. Langit menggantung kelabu, seakan siap menumpahkan rerimbun jelaga ke dalam kamar Pratama. Pendar pucat dari layar monitor memantul pada matanya yang sembap,menjadi satu-satunya lentera redup di tengah gulita yang kian pekat. Di layar itu, sebuah situs resmi pengumuman kelulusan terbuka, menampilkan deretan angka dan nama yang sekali lagi tidak mencantumkan namanya.

Dua huruf mematikan itu kembali menyapa pandangannya: Tidak Lolos.

Di dinding, jarum jam melangkah patuh, meletupkan bunyi tik-tak yang menjelma menjadi ketukan palu algojo. Pratama membeku. Ini bukanlah kegagalan pertama, bukan pula yang kedua atau ketiga. Ini adalah kali kesekian dalam bertahun-tahun perjalanannya menerjang ujian seleksi CPNS,sebuah impian besar yang terus-menerus meremukkan harapannya tepat di garis akhir.

Berkas-berkas kartu peserta dari tahun-tahun sebelumnya, buku-buku latihan soal yang kusam, dan kumpulan lembar formulir berserakan di sudut meja bak dedaunan kering yang dihantam badai. Dada Pratama sesak, seolah seluruh semesta mendadak menguncup dan menghimpit rongga pernapasannya.

Perjalanan menuju muara ini dipenuhi jeram yang tajam. Bertahun-tahun lamanya, Pratama memeras peluh, mengurai lelah, dan menganyam doa. Di mata orang-orang sekitarnya, ia adalah sosok bermental baja yang selalu tersenyum, teguh, dan tak pernah mengeluh. Namun, malam ini, benteng keteguhan itu diguncang oleh gempa yang teramat dahsyat.

Pengorbanan waktu, malam-malam tanpa tidur untuk belajar, biaya yang tak sedikit, hingga pandangan dan pertanyaan bersirat dari lingkungan sekitar, lebur menjadi sebuah pusaran angin puting beliung. Seluruh bangunan harapan yang didirikannya dengan darah dan doa seolah runtuh, tersapu air bah dalam sekejap mata.

Lalu, di celah-celah kesunyian yang mencengkeram, raungan serigala di dalam kepalanya mulai bergema.

"Untuk apa engkau memeluk mimpi ini lebih lama jika yang menggumpal di ujung jalan hanyalah kegagalan yang sama?"

"Mungkin takdirmu memang tak bernilai. Menyerahlah, biarkan malam menelan seluruh usahamu. Tak ada guna berjuang jika hasilnya selalu meremukkan dada."

Bisikan-bisikan berbisa itu merayap bagai sulur-sulur hitam, menggerogoti tiang-tiang penyangga jiwanya. Untuk pertama kalinya, benteng mental yang tempaannya bertahun-tahun dipoles oleh air mata dan keringat mulai mengelupas. Jemarinya yang gemetar pelan-pelan menjangkau tumpukan buku di mejanya, berniat meremas dan membuang seluruh berkas perjuangan itu ke tong sampah. Ia berada di bibir jurang keputusasaan, siap melebur bersama rasa menyerah.

Pratama memejamkan mata erat-erat. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ruang kerja yang dingin itu perlahan memudar, berganti menjadi sebuah kilas balik yang hangat dari masa lalu.

Ingatannya melayang pada suatu sore di pinggir ladang tua. Saat itu, ia masih seorang remaja yang menangis sesenggukan karena usahanya dihancurkan cemoohan orang. Ayahnya, seorang pria bersahaja dengan telapak tangan yang kasar dan penuh kapalan, mengajak Pratama duduk di atas tunggul kayu yang terjal.

Di hadapan putranya, sang ayah mengambil sebatang besi tua yang menghitam. Dengan tenang, sang ayah memasukkan besi itu ke dalam bara api hingga menyala merah membara, lalu menghantamnya bertubi-tubi dengan martil berat, sebelum akhirnya mencelupkannya mendesis ke dalam gentong air dingin. Uap putih membubung tinggi membelah udara sore.

"Lihat besi ini, Pratama," ujar sang ayah saat itu, suaranya berat namun teduh bagai naungan pohon beringin. "Besi polos tidak akan pernah menjadi pedang yang tangguh tanpa melewati gilasan api yang membakar dan hempasan martil yang menyakitkan. Air dingin yang mendesis itu bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk mengunci kekuatannya."

Sang ayah mengusap kepala Pratama dengan jemarinya yang kasar. "Dunia akan kerap menghantammu dengan penolakan dan kekecewaan. Tapi ingatlah, Nak... Besi yang paling tajam adalah besi yang paling kerap dihantam godam dan dicelupkan ke dalam air dingin. Kegagalan tidak membakarmu untuk membinasakan, ia sedang menyepuh batinmu."

“Tetapi bagaimana jika rasa sakit karena gagal ini terlalu berat untuk ditanggung, Pak?” bisik Pratama muda kala itu dengan suara bergetar.

Sang ayah tersenyum tipis, menatap lurus ke garis cakrawala. "Rasa sakit dan penolakan itu ibarat hujan angin. Ia membuat jalanan licin dan gelap, tetapi ia tak punya kuasa untuk menghentikan langkah kaki, kecuali jika engkau sendiri yang memilih berhenti melangkah. Musuh terbesarmu bukanlah angka di lembar pengumuman itu, melainkan bisikan di dalam dadamu yang menyuruhmu menyerah sebelum besi jiwamu sempat menjadi tajam.”

Gema suara sang ayah menyeruak menembus lorong waktu, merubuhkan tembok keputusasaan yang sempat mengepung batinnya. Bayangan kelembutan ibunya pun ikut hadir, menyirami jiwanya bagai embun pagi yang menyejukkan.

Pratama menarik napas dalam-dalam. Diisapnya sunyi yang dingin itu hingga memenuhi belahan dadanya.

"Kekalahan ini hanyalah air dingin yang mendesis di atas tempaan api," bisik batin Pratama dengan keheningan yang sarat daya. "Dan aku tidak akan membiarkan bisikan penakut ini merenggut besi baja yang telah disepuh oleh doa orang tuaku."

Satu per satu, ia tutup pintu hatinya dari lolongan bisikan ragu. Ditepuknya dada kiri dengan perlahan namun pasti,sebuah ritual sunyi untuk membangunkan raksasa keteguhan yang sempat tertidur di dalam dirinya. Mental baja itu tidak pernah hancur; ia hanya sedang disepuh ulang dalam leburnya api ujian malam ini. Ia memilih untuk tetap bertahan, tetap berdiri, dan tidak membiarkan kegagalan mendefinisikan siapa dirinya.

Mata Pratama terbuka kembali. Sinar di maniknya kini tak lagi memancarkan bayang kepanikan, melainkan kilat keteguhan yang bening bagai kristal.

Ia merapikan tumpukan buku latihan dan berkas-berkasnya dengan perlahan namun pasti. Tidak ada lagi ketergesaan yang didasari rasa panik atau ratapan penyesalan. Ia menata kembali niat di dalam dadanya.

Ketika fajar di ufuk timur pelan-pelan membelah gaun malam dan memancarkan semburat merah layung yang hangat menerobos kaca jendela, Pratama berdiri tegak di depan jendela.

Ujian itu mungkin belum memberinya hasil yang diinginkan malam ini. Namun, fajar yang terbit pagi itu adalah saksi bisu atas kemenangan terbesar seorang manusia: saat ia berhasil membendung badai di kepalanya sendiri, meredam raungan bisikan ragu setelah berpuluh kali jatuh, dan membuktikan bahwa jiwa yang telah ditempa oleh keikhlasan tak akan pernah sanggup diruntuhkan oleh kegagalan apa pun.


Selasa, 13 Oktober 2026

#13.Tantangan Menjadi Guru

 

Bukan Cuma di Depan Papan Tulis


Pagi masih membungkus halaman sekolah dengan sisa embun, namun Pak Maya sudah berdiri tegap di dekat gerbang. Sebagai guru, menyapa murid di pagi hari adalah ritual wajib untuk membangun ikatan emosional dan menanamkan karakter. Satu per satu anak-anak SD berdatangan diantar orang tua mereka. Namun, pemandangan pagi ini terasa berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Seorang anak laki-laki turun dari sepeda motor ayahnya tanpa mengucapkan salam. Matanya melekat pada layar ponsel di genggaman, sementara jempolnya lincah menggeser layar.

"Selamat pagi, Rian," sapa Pak Maya hangat sambil tersenyum.

Rian, anak usia sembilan tahun itu, hanya mendelik sekilas tanpa menghentikan langkahnya. "Pagi, Pak," sahutnya singkat dengan nada datar, acuh tak acuh, lalu melangkah begitu saja melewati gurunya tanpa membungkukkan badan atau menyapa balik dengan santun. Pak Maya mengelus dada pelan. Rian dulunya adalah murid yang ceria, santun, dan selalu menjadi yang pertama mengacungkan tangan saat pelajaran. Namun tiga bulan terakhir, sejak ponsel pintar berkuota tanpa batas ada di genggamannya, karakter anak itu berubah drastis.
***
Memasuki ruang guru, meja Pak Maya sudah dipenuhi tumpukan berkas. Di satu sisi, ada draf Modul Ajar,hingga aplikasi e-Kinerja yang menagih untuk diisi. Di sisi lain, pesan WhatsApp dari Kepala Sekolah baru saja masuk, meminta Pak Maya membuat video pembelajaran interaktif durasi singkat untuk tayang di Reels dan channel YouTube sekolah agar kelas terlihat modern dan menarik. Pak Maya menghembuskan napas panjang. Menjadi guru hari ini tidak lagi cukup hanya dengan berdiri mengajar dan paham materi. Guru dituntut menjadi administrator yang teliti, sekaligus konten kreator yang pandai mengemas visual.

Di dalam kelas, suasana riuh oleh suara anak-anak SD yang berlarian. Di sudut depan dekat papan tulis, Pak Maya sibuk menyetting kaki tripod kecil. Di atasnya, ponsel pintarnya terpasang membingkai meja guru dan papan tulis putih. Sebuah mik nirkabel klip-on ia jepitkan di kerah kemejanya.

"Anak-anak, perhatian sebentar ya," panggil Pak Maya sembari menepuk tangan tiga kali dengan nada ceria. "Hari ini materi IPAS tentang rantai makanan akan Bapak rekam untuk media pembelajaran interaktif dan draf konten YouTube sekolah. Jadi, tolong kooperatif ya. Duduk yang rapi dan tersenyum kalau kamera Bapak arahkan ke kalian."

Beberapa murid perempuan di barisan depan bersorak gembira. Namun di barisan paling belakang, Rian tampak tak acuh. Matanya melekat pada layar ponsel yang ia sembunyikan di bawah lipatan buku pelajaran. Pak Maya mencoba mengabaikannya sejenak dan memasang senyum terbaiknya,senyum ramah dan energik khas guru SD.

"Halo Anak-anak hebat! Kembali lagi bersama Pak Maya. Hari ini kita akan menjelajahi dunia hewan dan tumbuhan, melihat bagaimana makhluk hidup saling membutuhkan untuk bertahan hidup..."

Pak Maya mulai menjelaskan materi dengan peragaan gerak tubuh yang heboh agar murid-muridnya tidak bosan. Namun, baru beberapa menit ia berbicara, suara musik nyaring memecah keheningan kelas.

VICTORY!

Efek suara kemenangan dari game online ponsel Rian terdengar amat keras karena volumenya lupa dimatikan. Seketika seluruh kelas tertawa riuh. Pak Maya terhenti di tengah kalimat, menarik napas panjang, lalu mematikan rekaman video di tripodnya. Ia melangkah mendekati meja barisan belakang. Rian cepat-cepat memasukkan ponselnya ke dalam laci meja dengan wajah bersalah sekaligus menantang.

"Rian," panggil Pak Maya lembut namun bernada teguran. "Bisa disimpan dulu HP-nya? Kita kan sedang belajar."

Rian bukannya meminta maaf, ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil bersedekap. "Santai aja sih, Pak... Cuma game doang, enggak usah dimarahin," sahut Rian dengan bahasa yang kurang sopan untuk anak seusianya.

Pak Maya merasakan denyut hangat di pelipisnya. Di saat seperti ini, peran pembuat konten harus ia lepaskan seketika, berganti menjadi peran seorang penegak disiplin atau "polisi" kelas.

"Rian, kalau bicara dengan orang tua atau guru, tatap matanya dan gunakan bahasa yang santun ya," ujar Pak Maya tegas namun tenang. Ia mengulurkan tangannya. "Aturan sekolah kita jelas. Selama pelajaran berlangsung, tidak boleh bermain HP. Tolong titipkan HP-nya ke Pak Maya dulu. Nanti waktu jam pulang baru boleh diambil."

Rian mendecak keras, mengambil HP dari laci lalu melemparnya dengan kasar ke atas meja hingga berbunyi nyaring. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke luar jendela dengan bibir cemberut. Pak Maya mengambil HP tersebut dengan sabar, lalu menyimpannya di meja guru.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Namun,ketika anak-anak lain berlarian keluar kelas dengan gembira, Rian berdiri ragu di dekat pintu. Pak Maya memanggilnya pelan dan mengundangnya duduk di kursi depan meja guru. Suasana kelas yang tadinya bising kini mendadak hening. Pak Maya menarik kursinya agar duduk sejajar dengan Rian, tanpa jarak sekat meja yang kaku.

"Ini HP kamu, Rian," Pak Maya meletakkan ponsel itu di meja. Rian dengan cepat mengulurkan tangan pendeknya untuk mengambil, tetapi Pak Maya menahannya pelan dengan ujung jari. "Pak Maya kembalikan sekarang, tapi kasih Pak Maya waktu lima menit untuk ngobrol ya."

Rian menunduk, memainkan ujung seragam putihnya yang mulai lusuh. "Mau dihukum apa, Pak? Dipanggil orang tua ya?"

"Pak Maya enggak mau menghukum kamu," kata Pak Maya halus. Ia menatap wajah Rian yang polos namun memiliki lingkaran hitam di bawah matanya,tanda sangat kurang tidur. "Pak Maya cuma khawatir. Dulu Rian itu anak yang paling rajin, selalu ceria kalau maju ke depan kelas. Tapi belakangan ini, Rian sering tidur di kelas, gampang marah, dan kalau ditanya sukanya menjawab kurang sopan. Pak Maya tahu main game di HP itu seru banget, tapi kalau sampai malam banget kamu enggak tidur, pasti ada alasannya. Ada apa di rumah, Nak?"

Pertanyaan sederhana itu mendadak meruntuhkan pertahanan Rian. Bahu kecil anak SD itu mulai bergetar. Air mata perlahan menetes menembus pipinya.

"Di rumah sepi, Pak..." bisik Rian dengan suara parau. "Mama sama Papa pulang malam terus dari tempat kerja. Kalau pulang, Mama sama Papa sering berantem atau sibuk sama HP masing-masing. Enggak ada yang nemenin Rian main atau nanyain tugas sekolah. Kalau Rian main HP sampai malam, Rian enggak merasa sendirian..."

Pak Maya mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Dadanya terasa sesak. Anak sekecil ini harus menanggung rasa kesepian yang besar di rumahnya sendiri, melampiaskannya pada layar ponsel hingga merusak karakter dan etika belajarnya di sekolah.

"Terima kasih ya, Rian, sudah mau cerita sama Pak Maya," ucap Pak Maya tulus sambil menyerahkan selembar tisu. "Pak Maya paham perasaan kamu. Tapi merusak kesehatan dan masa depan kamu dengan main HP terus-terusan juga bukan solusi yang baik. Kita cari solusinya bareng-bareng ya."
***
Keesokan harinya jam 11 siang, ibu Rian datang ke sekolah. Pak Maya menyambutnya ramah di ruang tamu. Namun, dari raut wajahnya, sang ibu tampak terburu-buru dan memegang ponsel yang terus bergetar.

"Ada apa ya, Pak Maya? Saya enggak punya banyak waktu, ini masih jam kantor," ujar ibu Rian tanpa basa-basi.

Pak Maya menyampaikan perkembangan Rian dengan hati-hati,mulai dari penurunan nilai, kecanduan HP hingga larut malam, hingga masalah sopan santun di kelas. Namun, reaksi yang didapat jauh dari harapan.

"Loh, Pak! Saya itu bayar dan titip anak di sekolah supaya dididik!" potong ibu Rian dengan suara meninggi. "Di rumah saya sibuk cari uang buat biaya sekolah dia. Kalau di rumah dia main HP, ya bagus dong, berarti dia tenang enggak kelayapan! Masa urusan anak main HP saja sekolah enggak bisa nanganin?"

Pak Maya menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sesak di dadanya. Inilah salah satu benteng tersulit guru modern: ketika orang tua melepas tanggung jawab pengasuhan penuh kepada sekolah dan menolak diajak bekerja sama.

"Ibu," sahut Pak Maya tenang namun berwibawa. "Pendidikan karakter anak adalah bangunan yang butuh dua pilar: sekolah dan rumah. Kalau pilar di rumah runtuh karena anak merasa kesepian dan dialihkan ke HP, setinggi apa pun kami membangun di sekolah, bangunannya akan tetap roboh."

Ibu Rian terdiam mendengarnya, meski wajahnya masih memancarkan keengganan.
***
Seminggu kemudian, keributan pecah saat jam istirahat. Rian kedapatan merebut kembali HP-nya yang disimpan di lemari guru saat Pak Maya sedang ke kamar mandi. Ketika ditegur oleh guru piket, Rian malah mengamuk, berteriak, dan hampir mendorong meja.

Pak Maya bergegas masuk ke kelas. Di tengah kepungan tatapan takut murid-murid lain, Pak Maya tidak datang membawa amarah atau ancaman hukuman. Ia berjalan pelan, berlutut di hadapan Rian yang napasnya memburu dengan mata merah menahan tangis. Pak Maya memegang kedua bahu kecil anak itu dengan lembut namun mantap.

"Rian... lihat Pak Maya," bisik Pak Maya tenang. "Bapak ada di sini. Kamu enggak sendiri. Jangan biarkan HP ini mengontrol emosi dan merusak diri kamu."

Tatapan hangat dan ketenangan Pak Maya meluluhkan amarah Rian. Tangannya yang mengepal erat perlahan melemas. HP di genggamannya terjatuh ke lantai. Rian menunduk dan menangis sesenggukan di pelukan gurunya. Seluruh kelas hening, menyaksikan momen emosional antara guru dan muridnya.
***
Satu bulan telah berlalu. Tidak ada keajaiban instan yang mengubah Rian menjadi murid sempurna dalam semalam. Namun, perubahan-perubahan kecil mulai terlihat.

Pagi itu, Rian melangkah melewati gerbang sekolah. Tanpa perlu diingatkan, ia meletakkan HP-nya ke dalam kotak khusus yang disediakan Pak Maya di depan kelas. Saat berpapasan dengan Pak Maya, Rian menatap mata gurunya, mengangguk pelan, dan bersuara pendek namun santun, "Selamat pagi, Pak Maya."

Pak Maya,mengangguk ramah,membalas sapaan Rian,bersamaan dengan masuknya sebuah pesan singkat  ke WhatsAppnya dari ibu Rian:

“Pak Maya, terima kasih ya sudah sabar sama Rian. Sekarang kami usahakan ada waktu ngobrol setiap malam tanpa HP. Rian juga sudah mulai mau cerita tentang sekolahnya.”
***
Malam harinya di rumah, Pak Maya duduk di meja kerjanya. Di hadapannya menumpuk draf nilai, laporan administrasi, dan editan video pembelajaran untuk esok hari yang belum selesai. Tubuhnya lelah, matanya perih. Namun, mengingat sapaan Rian pagi tadi dan pesan dari ibunya, sebuah senyum tipis terukir di wajah Pak Maya.

Menjadi guru di era sekarang memang teramat berat. Ia harus berpindah peran dalam hitungan detik,dari pengajar menjadi ilmuwan, dari polisi kelas menjadi psikolog, dari pustakawan administrasi menjadi konten kreator. Namun di balik semua kelelahan itu, melihat satu jiwa kecil kembali menemukan arahnya adalah alasan utama mengapa ia akan selalu bangga berdiri di depan kelas esok hari.

#15.Setengah Perjalanan:Apa yang Saya Rasakan

  Menjaga Nyala di Titik Tengah: Cerita Jujur Setengah Jalan di KBMN Kursor berwarna hitam itu berkedip-kedip di layar laptop yang temaram, ...