Senin, 05 Oktober 2026

#5.Kegagalan yang Mengajarkan Saya

Tak Ada Pengabdian yang Sia-Sia


Suara gemericik air hujan di luar jendela ruangan kelas SDN 1 Ciraja seolah mengiringi deretan kenangan yang berputar kembali di benak Suherman. Di atas meja kerjanya, tertata rapi tumpukan lembar kerja siswa dan sebuah map berisi dokumen resmi. Di bagian atas dokumen itu, tertera nama lengkapnya beserta gelar yang diraihnya dengan penuh perjuangan: Suherman Komara, S.Pd.SD., lengkap dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) yang kini resmi melekat.

Butuh waktu dua puluh tahun untuk sampai di titik ini.

Dua puluh tahun lalu, dengan ijazah yang masih berbau tinta cetak dan semangat yang membumbung tinggi, Suherman melangkah mantap menuju lokasi tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pertamanya. Kala itu, bayangannya sederhana: lulus, memakai seragam khaki kebanggaan, dan mendedikasikan hidup sepenuhnya di dunia pendidikan. Namun, papan pengumuman di kantor kabupaten beberapa bulan kemudian memberikan jawaban lain. Namanya tidak ada di sana.

"Belum rezeki," bisiknya waktu itu, mencoba melapangkan dada.

Tahun berganti tahun. Musim tes CPNS datang dan pergi seperti siklus tahunan yang membawa harapan sekaligus ujian mental. Dua kali gagal, tiga kali gagal, hingga hitungan itu tak lagi sanggup ia ingat tanpa rasa sesak. Suherman menyaksikan rekan-rekan seangkatannya satu per satu lulus, merayakan kelulusan, dan melangkah maju. Sementara itu, ia masih berada di garis yang sama, mengajar dari hari ke hari sebagai guru honorer dengan honor yang jauh dari kata cukup, namun dengan pengabdian yang tak pernah berkurang sedikit pun.

Ada masa-masa berat ketika pertanyaan dari kerabat atau tetangga terasa lebih tajam dari sembilu. "Masih ikut tes lagi, Pak?" atau "Kenapa tidak cari pekerjaan lain saja?"

Di tahun-tahun ke-12 dan ke-15, rasa lelah luar biasa sempat merayap naik. Suherman pernah duduk di sudut ruangan kelas yang kosong setelah seluruh muridnya pulang, menatap papan tulis hitam, dan bertanya pada diri sendiri dalam hening: Sampai kapan? Apakah jalan ini memang diciptakan untuk saya?

Titik balik dalam hidupnya tidak datang dari pengumuman kelulusan, melainkan dari perubahan di dalam dadanya sendiri. Di suatu sore, saat melihat binar mata seorang murid sekolah dasar yang akhirnya bisa membaca setelah berminggu-minggu ia bimbing dengan sabar, Suherman menyadari satu hal penting. Ketulusannya mendidik tidak boleh disandera oleh selembar kertas status. Pengabdiannya di depan kelas adalah nilai hidupnya yang sejati, ada ataupun tanpa seragam khaki itu.

Sejak saat itu, ia berhenti mengutuki kegagalan. Ia menerima setiap kekalahan dalam ujian bukan sebagai penolakan atas kapasitas dirinya, melainkan sebagai proses menempa kesabaran yang lebih dalam. Kegagalan demi kegagalan mengikis rasa jumawa, mengajarkannya kerendahan hati, dan membentuk daya tahan mental yang tidak mudah patah oleh keadaan.

Hingga akhirnya, tahun ke-20 itu tiba.

Suherman mendaftar kembali. Kali ini tanpa beban ekspektasi yang menghimpit, tanpa rasa terburu-buru. Ia melangkah ke ruang ujian dengan persiapan matang, doa yang tenang, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Ia tidak lagi mengejar pengakuan, melainkan hanya melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Pagi itu, suasana di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung di Soreang dipadati lautan manusia. Lembaran koran Pikiran Rakyat terbentang di jemari para peserta yang berdesakan meneliti baris demi baris cetakan nomor dan nama. Di sudut lain, kerumunan warga berdesak-desakan menatap papan pengumuman kayu berukuran besar. Jarinya yang sedikit gemetar perlahan menelusuri deretan nama yang tercetak di kertas lembaran pengumuman tersebut. Ketika matanya menangkap nama Suherman Komara, dada pria itu berdesir hebat. Air mata yang telah tertahan selama dua dekade akhirnya jatuh juga, menetes pelan mengaliri pipinya.

Kini, berdiri di depan murid-muridnya sebagai wali kelas, Suherman menyadari bahwa dua puluh tahun penantian itu bukanlah waktu yang terbuang sia-sia. Tuhan tidak sedang menundanya tanpa alasan; Tuhan sedang membentuk karakternya agar ketika hari itu tiba, ia tidak hanya siap menjadi seorang pegawai negeri, tetapi menjadi seorang pendidik yang benar-benar bijaksana, tangguh, dan penuh rasa syukur.

Minggu, 04 Oktober 2026

#4.Murid yang Memberikan Pelajaran

 


Lentera Kecil di Sudut Kelas

Suara gemuruh hujan mengguyur atap sekolah ketika aku menyusuri koridor belakang. Langkahku terhenti saat melihat Budi sedang duduk di sudut tangga yang redup. Kakinya yang telanjang dilipat rapat, sementara jemarinya dengan cekatan merapikan kantong-kantong plastik berisi keripik. Di sampingnya, sepasang sepatu hitam yang kusam dan terkelupas tersimpan rapi di dalam tas plastik bening.

"Budi? Kenapa belum pulang? Hujan deras begini, nanti kamu sakit," sapaku sambil menghampirinya.

Budi terkejut, lalu buru-buru berdiri dan menunduk sopan. "Eh, Bapak... Niatnya mau langsung pulang, Pak. Tapi menunggu hujannya sedikit reda dulu sambil merapikan keripik jualan Ibu."

"Sepatumu sengaja dilepas?" tanyaku menunjuk kantong plastik di dekat kakinya.

Ia tersenyum tipis, tampak agak malu. "Iya, Pak. Sepatu ini tinggal satu-satunya. Kalau basah kuyup kena hujan, besok tidak bisa dipakai sekolah karena susah keringnya."

Dada rasanya sesak mendengar jawabannya yang begitu polos. "Setiap hari setelah sekolah kamu berjualan keripik, Budi?"

"Iya, Pak," jawabnya jujur sambil mengangguk pelan. "Lumayan untuk bantu-bantu Ibu beli beras dan kelanjutan biaya berobat Adik. Tapi Budi usahakan kelilingnya cepat kok, Pak, supaya malamnya tetap bisa belajar."

Aku menepuk bahunya dengan lembut, kehabisan kata-kata atas keteguhan hatinya. "Kamu anak yang luar biasa, Budi. Tapi ingat kesehatanmu juga, ya. Jangan sampai terlalu lelah."

"Pasti, Pak. Terima kasih banyak," balasnya tulus.

Beberapa minggu kemudian, suasana kelas mendadak riuh saat aku membagikan hasil ujian akhir semester. Setelah memberikan apresiasi singkat atas kerja keras anak-anak, aku mengumumkan pemilik nilai tertinggi di kelas.

"Nilai tertinggi semester ini diraih oleh... Budi."

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Budi sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya berdiri dan berjalan maju ke depan kelas dengan langkah yang tenang.

"Selamat, Budi. Nilaimu hampir sempurna di semua mata pelajaran," ucapku seraya menyerahkan lembar hasilnya.

Ia menerima kertas itu dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Pak... Budi tidak menyangka."

"Bapak tahu perjuanganmu tidak mudah. Di saat kamu harus bekerja dan menjaga adikmu, kamu tetap memberikan yang terbaik untuk belajar. Bapak sangat bangga padamu," kataku penuh rasa haru.

Budi menunduk dalam-dalam. "Ini semua karena bimbingan Bapak. Terima kasih sudah selalu sabar mengajar kami, tidak pernah membeda-bedakan, dan selalu memberi Budi semangat."

Aku tersenyum hangat lalu menepuk pelan pundaknya. "Justru Bapak yang harus berterima kasih padamu, Budi. Dari kamu, Bapak belajar banyak hal tentang arti perjuangan yang sesungguhnya."

Sabtu, 03 Oktober 2026

#3.Guru yang Menginspirasi Saya

 

Suara di Balik Sunyi


Duduk di bangku paling belakang dekat jendela adalah posisi aman bagiku. Bagi seorang introvert yang selalu merasa canggung di tengah keramaian, berdiri di bawah sorotan perhatian banyak orang adalah hal paling menakutkan. Aku lebih suka tenggelam dalam pikiran sendiri, mencatat pelajaran dengan tenang, dan membiarkan teman-teman lain mendominasi ruang kelas dengan gelak tawa serta keaktifan mereka. Aku merasa nyaman dengan menjadi seseorang yang "tidak terlihat."

Namun, kenyamanan itu goyah saat memasuki semester baru. Hari itu, bab pelajaran baru menuntut setiap siswa untuk berdiri di depan kelas, menyampaikan gagasan dan pendapat secara lisan. Saat namaku dipanggil, langkah kakiku terasa sangat berat. Berdiri di hadapan puluhan pasang mata yang menatap lurus ke arahku membuat dadaku sesak. Tenggorokanku mendadak kering, kata-kata yang sudah kususun rapi di kepala hilang begitu saja, dan suaraku terkunci rapat. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung sebelum akhirnya aku menunduk dan meminta izin untuk kembali ke tempat duduk.

Rasa malu dan kecewa pada diri sendiri membakar pipiku. Aku merasa gagal.

Di sudut depan kelas, berdiri Pak Endang. Beliau adalah sosok guru yang teduh, selalu mengenakan kemeja rapi dengan senyum hangat yang menenangkan. Bukannya memarahi atau memberi teguran tegas di depan teman-teman yang mulai berbisik, Pak Endang hanya mengangguk pelan dan melanjutkan pelajaran dengan tenang.

Saat bel pulang berbunyi, Pak Endang memanggilku secara pribadi. Dengan rasa cemas, aku menghampiri mejanya. Namun, tidak ada tatapan penghakiman di matanya.

"Tidak apa-apa," ujar Pak Endang lembut, seolah bisa membaca badai di dalam kepalaku. "Menjadi diam bukan berarti kamu tidak punya pikiran yang luar biasa. Setiap orang punya caranya sendiri untuk bersuara."

Pak Endang tidak memaksaku untuk langsung berubah menjadi pribadi yang riuh. Beliau memahami sifat introvertku. Mulai hari itu, beliau memberiku ruang aman. Pak Endang sering mengizinkanku menyalurkan ide-ideku lewat tulisan terlebih dahulu, lalu secara perlahan mengajakku berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Beliau selalu memberikan umpan balik yang membangun dan tak pernah lelah meyakinkanku bahwa pendapatku berharga. Kepedulian dan rasa percaya yang konsisten dari Pak Endang perlahan-lahan mengikis tembok ketakutan yang selama ini kubangun.

Kesempatan itu datang kembali di penghujung semester. Sebuah presentasi akhir yang menentukan harus dibawakan di depan kelas. Ketika namaku dipanggil, rasa gugup itu tentu masih ada, tetapi kali ini tidak lagi melumpuhkan.

Aku berjalan ke depan, menarik napas dalam-dalam, dan melihat ke arah Pak Endang di belakang kelas. Beliau memberikan anggukan kecil penuh keyakinan. Mengingat semua dorongan dan arahan yang beliau berikan, aku mulai berbicara. Suaraku mungkin tidak senyaring teman-teman yang lain, tetapi terdengar jelas, tenang, dan penuh dengan gagasan yang telah kurancang dengan matang.

Ketika aku selesai, hening sejenak sebelum tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Aku melihat Pak Endang tersenyum bangga sambil bertepuk tangan dari mejanya.

Hari itu menjadi titik balik dalam hidupku. Aku menyadari bahwa menjadi seorang introvert bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah warna unik dalam diri. Pak Endang telah menjadi sosok pelita yang menginspirasi, mengajariku cara menemukan kebebasan dan rasa percaya diri di tengah sunyi, serta membuktikan bahwa setiap suara,sekecil apa pun,layak untuk didengar.

Jumat, 02 Oktober 2026

#2.Pengalaman yang Tidak Terlupakan


JEJAK LITERASI DI DE MAJESTIK

Ada denyut hangat yang langsung terasa ketika derap langkah saya menyusuri trotoar Jalan Braga hari itu. Di hadapan saya, Gedung De Majestik berdiri anggun menantang zaman. Bangunan berarsitektur klasik tersebut seolah sedang berbisik tentang sejarah panjang Kota Bandung, siap menjadi saksi bisu sebuah babak baru dalam perjalanan hidup saya. Hari itu, saya melangkah masuk ke ajang Perpusnas Writer Festival dengan perasaan campur aduk,antara girang, takjub, sekaligus terselip rasa gugup yang halus.

Saat melewati pintu utama, atmosfer di dalam ruangan langsung menyergap indra. Nuansa masa lalu dan gairah literasi masa kini melebur begitu sempurna. Di tengah riuh rendah percakapan, sebuah kesadaran mendalam mendadak menyeruak: literasi ternyata bukan sekadar kemampuan merangkai kata, melainkan tentang bagaimana seseorang meresapi makna, lalu membagikan percikan makna tersebut kepada orang lain.

Berada di tengah lautan peserta yang datang dari pelbagai latar belakang memberi warna tersendiri. Setiap orang membawa cerita dan perjalanannya masing-masing. Dari sanalah lahir pemahaman sederhana yang begitu membekas: sebuah tulisan mungkin lahir dari jemari satu orang, tetapi gagasan di dalamnya sanggup menyentuh dan menggerakkan banyak jiwa.

Puncak dari jalinan kenangan hari itu hadir melalui sebuah perjumpaan yang menggetarkan. Pandangan saya tertuju pada sosok yang sejak masa muda hanya saya kenal lewat lembaran kisah Balada Si Roy,Gol A Gong. Beliau menyapa dengan begitu ramah dan bersahaja. Kami sempat mengabadikan momen berharga itu dalam sebuah foto bersama. Meski niat hati ingin menceritakan betapa karya-karyanya telah memengaruhi cara pandang saya, waktu tak mengizinkan karena beliau harus segera bersiap di panggung utama. Namun, pertemuan singkat dalam hitungan menit itu justru menjelma menjadi petikan inspirasi yang bertahan sangat lama.

Sepulang dari De Majestik, ada pijar semangat baru yang menyala teguh di dalam dada. Sebagai seorang pendidik, pemaknaan ini terasa semakin dekat dengan panggilan jiwa. Saya makin yakin bahwa menulis tidak perlu menunggu menjadi hebat atau dimulai dari hal raksasa. Pengalaman sehari-hari, peristiwa kecil, dan rekam jejak kehidupan bisa menjadi karya yang bermakna jika kita berani jujur menuangkannya.

Salam Literasi!

Kamis, 01 Oktober 2026

#1.Mengapa Saya Ingin Menulis

 

Menjejakkan Makna Lewat Pena

Menulis bukanlah sekadar kegiatan merangkai huruf menjadi kalimat atau menyusun paragraf di atas halaman putih. Bagi saya, menulis adalah sebuah perjalanan perenungan diri, sarana mengabadikan jejak langkah kehidupan, sekaligus wadah sederhana untuk terus mengalirkan kebaikan kepada sesama.

Saya Suherman Komara, seorang pendidik yang menghabiskan hari-hari di ruang kelas sekolah dasar. Di sela-sela rutinitas mendampingi tumbuh kembang para siswa, dunia literasi menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian saya. Aktivitas tersebut terentang mulai dari merancang bahan ajar, menyusun panduan pembelajaran, mengelola blog edukasi pribadi, hingga menuangkan rasa ke dalam bait-bait puisi berbahasa Sunda serta tulisan nonfiksi.

Pendorong utama yang membuat saya ingin terus mendalami dunia penulisan adalah keyakinan bahwa sebuah gagasan yang dibukukan memiliki daya tahan melampaui waktu. Pembelajaran yang disampaikan secara lisan bisa saja hilang seiring berjalannya hari, namun gagasan yang tertuang dalam bentuk tulisan akan tetap hidup dan dapat diakses oleh siapa saja. Sebagai seorang guru, saya merindukan kesempatan untuk membagikan pengalaman pengajaran, gagasan pedagogi, dan catatan reflektif kepada khalayak yang lebih luas.

Pengalaman saya dalam merangkai karya sejauh ini telah melahirkan beberapa bentuk tulisan, di antaranya kumpulan puisi berbahasa Sunda berjudul Simpay Asih, beragam artikel bertema pendidikan pada blog pribadi, hingga naskah buku nonfiksi Jejak Bloger Guru Oemar Bakrie yang berisi kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan di blog pribadi saya.

Meski demikian, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Hambatan terbesar yang sering saya hadapi adalah menjaga konsistensi di tengah padatnya tugas-tugas di sekolah, mengatur manajemen waktu dengan efektif, serta mengatasi rasa ragu dalam diri mengenai sejauh mana tulisan yang saya buat mampu memberikan dampak dan manfaat bagi pembacanya.

Atas dasar itulah saya memutuskan untuk melangkah dan melibatkan diri dalam Kegiatan Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35. Selama menempa diri dalam program ini, target utama saya adalah menyerap sebanyak mungkin ilmu kepenulisan dari para narasumber, melatih kedisiplinan menulis secara harian, memperluas jejaring bersama sesama pegiat literasi dari berbagai daerah, serta mengasah gaya bahasa agar semakin informatif dan menggugah.

 

#5.Kegagalan yang Mengajarkan Saya

Tak Ada Pengabdian yang Sia-Sia Suara gemericik air hujan di luar jendela ruangan kelas SDN 1 Ciraja seolah mengiringi deretan kenangan yang...