Minggu, 04 Oktober 2026

#4.Murid yang Memberikan Pelajaran

 


Lentera Kecil di Sudut Kelas

Suara gemuruh hujan mengguyur atap sekolah ketika aku menyusuri koridor belakang. Langkahku terhenti saat melihat Budi sedang duduk di sudut tangga yang redup. Kakinya yang telanjang dilipat rapat, sementara jemarinya dengan cekatan merapikan kantong-kantong plastik berisi keripik. Di sampingnya, sepasang sepatu hitam yang kusam dan terkelupas tersimpan rapi di dalam tas plastik bening.

"Budi? Kenapa belum pulang? Hujan deras begini, nanti kamu sakit," sapaku sambil menghampirinya.

Budi terkejut, lalu buru-buru berdiri dan menunduk sopan. "Eh, Bapak... Niatnya mau langsung pulang, Pak. Tapi menunggu hujannya sedikit reda dulu sambil merapikan keripik jualan Ibu."

"Sepatumu sengaja dilepas?" tanyaku menunjuk kantong plastik di dekat kakinya.

Ia tersenyum tipis, tampak agak malu. "Iya, Pak. Sepatu ini tinggal satu-satunya. Kalau basah kuyup kena hujan, besok tidak bisa dipakai sekolah karena susah keringnya."

Dada rasanya sesak mendengar jawabannya yang begitu polos. "Setiap hari setelah sekolah kamu berjualan keripik, Budi?"

"Iya, Pak," jawabnya jujur sambil mengangguk pelan. "Lumayan untuk bantu-bantu Ibu beli beras dan kelanjutan biaya berobat Adik. Tapi Budi usahakan kelilingnya cepat kok, Pak, supaya malamnya tetap bisa belajar."

Aku menepuk bahunya dengan lembut, kehabisan kata-kata atas keteguhan hatinya. "Kamu anak yang luar biasa, Budi. Tapi ingat kesehatanmu juga, ya. Jangan sampai terlalu lelah."

"Pasti, Pak. Terima kasih banyak," balasnya tulus.

Beberapa minggu kemudian, suasana kelas mendadak riuh saat aku membagikan hasil ujian akhir semester. Setelah memberikan apresiasi singkat atas kerja keras anak-anak, aku mengumumkan pemilik nilai tertinggi di kelas.

"Nilai tertinggi semester ini diraih oleh... Budi."

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Budi sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya berdiri dan berjalan maju ke depan kelas dengan langkah yang tenang.

"Selamat, Budi. Nilaimu hampir sempurna di semua mata pelajaran," ucapku seraya menyerahkan lembar hasilnya.

Ia menerima kertas itu dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Pak... Budi tidak menyangka."

"Bapak tahu perjuanganmu tidak mudah. Di saat kamu harus bekerja dan menjaga adikmu, kamu tetap memberikan yang terbaik untuk belajar. Bapak sangat bangga padamu," kataku penuh rasa haru.

Budi menunduk dalam-dalam. "Ini semua karena bimbingan Bapak. Terima kasih sudah selalu sabar mengajar kami, tidak pernah membeda-bedakan, dan selalu memberi Budi semangat."

Aku tersenyum hangat lalu menepuk pelan pundaknya. "Justru Bapak yang harus berterima kasih padamu, Budi. Dari kamu, Bapak belajar banyak hal tentang arti perjuangan yang sesungguhnya."

Sabtu, 03 Oktober 2026

#3.Guru yang Menginspirasi Saya

 

Suara di Balik Sunyi


Duduk di bangku paling belakang dekat jendela adalah posisi aman bagiku. Bagi seorang introvert yang selalu merasa canggung di tengah keramaian, berdiri di bawah sorotan perhatian banyak orang adalah hal paling menakutkan. Aku lebih suka tenggelam dalam pikiran sendiri, mencatat pelajaran dengan tenang, dan membiarkan teman-teman lain mendominasi ruang kelas dengan gelak tawa serta keaktifan mereka. Aku merasa nyaman dengan menjadi seseorang yang "tidak terlihat."

Namun, kenyamanan itu goyah saat memasuki semester baru. Hari itu, bab pelajaran baru menuntut setiap siswa untuk berdiri di depan kelas, menyampaikan gagasan dan pendapat secara lisan. Saat namaku dipanggil, langkah kakiku terasa sangat berat. Berdiri di hadapan puluhan pasang mata yang menatap lurus ke arahku membuat dadaku sesak. Tenggorokanku mendadak kering, kata-kata yang sudah kususun rapi di kepala hilang begitu saja, dan suaraku terkunci rapat. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung sebelum akhirnya aku menunduk dan meminta izin untuk kembali ke tempat duduk.

Rasa malu dan kecewa pada diri sendiri membakar pipiku. Aku merasa gagal.

Di sudut depan kelas, berdiri Pak Endang. Beliau adalah sosok guru yang teduh, selalu mengenakan kemeja rapi dengan senyum hangat yang menenangkan. Bukannya memarahi atau memberi teguran tegas di depan teman-teman yang mulai berbisik, Pak Endang hanya mengangguk pelan dan melanjutkan pelajaran dengan tenang.

Saat bel pulang berbunyi, Pak Endang memanggilku secara pribadi. Dengan rasa cemas, aku menghampiri mejanya. Namun, tidak ada tatapan penghakiman di matanya.

"Tidak apa-apa," ujar Pak Endang lembut, seolah bisa membaca badai di dalam kepalaku. "Menjadi diam bukan berarti kamu tidak punya pikiran yang luar biasa. Setiap orang punya caranya sendiri untuk bersuara."

Pak Endang tidak memaksaku untuk langsung berubah menjadi pribadi yang riuh. Beliau memahami sifat introvertku. Mulai hari itu, beliau memberiku ruang aman. Pak Endang sering mengizinkanku menyalurkan ide-ideku lewat tulisan terlebih dahulu, lalu secara perlahan mengajakku berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Beliau selalu memberikan umpan balik yang membangun dan tak pernah lelah meyakinkanku bahwa pendapatku berharga. Kepedulian dan rasa percaya yang konsisten dari Pak Endang perlahan-lahan mengikis tembok ketakutan yang selama ini kubangun.

Kesempatan itu datang kembali di penghujung semester. Sebuah presentasi akhir yang menentukan harus dibawakan di depan kelas. Ketika namaku dipanggil, rasa gugup itu tentu masih ada, tetapi kali ini tidak lagi melumpuhkan.

Aku berjalan ke depan, menarik napas dalam-dalam, dan melihat ke arah Pak Endang di belakang kelas. Beliau memberikan anggukan kecil penuh keyakinan. Mengingat semua dorongan dan arahan yang beliau berikan, aku mulai berbicara. Suaraku mungkin tidak senyaring teman-teman yang lain, tetapi terdengar jelas, tenang, dan penuh dengan gagasan yang telah kurancang dengan matang.

Ketika aku selesai, hening sejenak sebelum tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Aku melihat Pak Endang tersenyum bangga sambil bertepuk tangan dari mejanya.

Hari itu menjadi titik balik dalam hidupku. Aku menyadari bahwa menjadi seorang introvert bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah warna unik dalam diri. Pak Endang telah menjadi sosok pelita yang menginspirasi, mengajariku cara menemukan kebebasan dan rasa percaya diri di tengah sunyi, serta membuktikan bahwa setiap suara,sekecil apa pun,layak untuk didengar.

Jumat, 02 Oktober 2026

#2.Pengalaman yang Tidak Terlupakan


JEJAK LITERASI DI DE MAJESTIK

Ada denyut hangat yang langsung terasa ketika derap langkah saya menyusuri trotoar Jalan Braga hari itu. Di hadapan saya, Gedung De Majestik berdiri anggun menantang zaman. Bangunan berarsitektur klasik tersebut seolah sedang berbisik tentang sejarah panjang Kota Bandung, siap menjadi saksi bisu sebuah babak baru dalam perjalanan hidup saya. Hari itu, saya melangkah masuk ke ajang Perpusnas Writer Festival dengan perasaan campur aduk,antara girang, takjub, sekaligus terselip rasa gugup yang halus.

Saat melewati pintu utama, atmosfer di dalam ruangan langsung menyergap indra. Nuansa masa lalu dan gairah literasi masa kini melebur begitu sempurna. Di tengah riuh rendah percakapan, sebuah kesadaran mendalam mendadak menyeruak: literasi ternyata bukan sekadar kemampuan merangkai kata, melainkan tentang bagaimana seseorang meresapi makna, lalu membagikan percikan makna tersebut kepada orang lain.

Berada di tengah lautan peserta yang datang dari pelbagai latar belakang memberi warna tersendiri. Setiap orang membawa cerita dan perjalanannya masing-masing. Dari sanalah lahir pemahaman sederhana yang begitu membekas: sebuah tulisan mungkin lahir dari jemari satu orang, tetapi gagasan di dalamnya sanggup menyentuh dan menggerakkan banyak jiwa.

Puncak dari jalinan kenangan hari itu hadir melalui sebuah perjumpaan yang menggetarkan. Pandangan saya tertuju pada sosok yang sejak masa muda hanya saya kenal lewat lembaran kisah Balada Si Roy,Gol A Gong. Beliau menyapa dengan begitu ramah dan bersahaja. Kami sempat mengabadikan momen berharga itu dalam sebuah foto bersama. Meski niat hati ingin menceritakan betapa karya-karyanya telah memengaruhi cara pandang saya, waktu tak mengizinkan karena beliau harus segera bersiap di panggung utama. Namun, pertemuan singkat dalam hitungan menit itu justru menjelma menjadi petikan inspirasi yang bertahan sangat lama.

Sepulang dari De Majestik, ada pijar semangat baru yang menyala teguh di dalam dada. Sebagai seorang pendidik, pemaknaan ini terasa semakin dekat dengan panggilan jiwa. Saya makin yakin bahwa menulis tidak perlu menunggu menjadi hebat atau dimulai dari hal raksasa. Pengalaman sehari-hari, peristiwa kecil, dan rekam jejak kehidupan bisa menjadi karya yang bermakna jika kita berani jujur menuangkannya.

Salam Literasi!

Kamis, 01 Oktober 2026

#1.Mengapa Saya Ingin Menulis

 

Menjejakkan Makna Lewat Pena

Menulis bukanlah sekadar kegiatan merangkai huruf menjadi kalimat atau menyusun paragraf di atas halaman putih. Bagi saya, menulis adalah sebuah perjalanan perenungan diri, sarana mengabadikan jejak langkah kehidupan, sekaligus wadah sederhana untuk terus mengalirkan kebaikan kepada sesama.

Saya Suherman Komara, seorang pendidik yang menghabiskan hari-hari di ruang kelas sekolah dasar. Di sela-sela rutinitas mendampingi tumbuh kembang para siswa, dunia literasi menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian saya. Aktivitas tersebut terentang mulai dari merancang bahan ajar, menyusun panduan pembelajaran, mengelola blog edukasi pribadi, hingga menuangkan rasa ke dalam bait-bait puisi berbahasa Sunda serta tulisan nonfiksi.

Pendorong utama yang membuat saya ingin terus mendalami dunia penulisan adalah keyakinan bahwa sebuah gagasan yang dibukukan memiliki daya tahan melampaui waktu. Pembelajaran yang disampaikan secara lisan bisa saja hilang seiring berjalannya hari, namun gagasan yang tertuang dalam bentuk tulisan akan tetap hidup dan dapat diakses oleh siapa saja. Sebagai seorang guru, saya merindukan kesempatan untuk membagikan pengalaman pengajaran, gagasan pedagogi, dan catatan reflektif kepada khalayak yang lebih luas.

Pengalaman saya dalam merangkai karya sejauh ini telah melahirkan beberapa bentuk tulisan, di antaranya kumpulan puisi berbahasa Sunda berjudul Simpay Asih, beragam artikel bertema pendidikan pada blog pribadi, hingga naskah buku nonfiksi Jejak Bloger Guru Oemar Bakrie yang berisi kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan di blog pribadi saya.

Meski demikian, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Hambatan terbesar yang sering saya hadapi adalah menjaga konsistensi di tengah padatnya tugas-tugas di sekolah, mengatur manajemen waktu dengan efektif, serta mengatasi rasa ragu dalam diri mengenai sejauh mana tulisan yang saya buat mampu memberikan dampak dan manfaat bagi pembacanya.

Atas dasar itulah saya memutuskan untuk melangkah dan melibatkan diri dalam Kegiatan Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35. Selama menempa diri dalam program ini, target utama saya adalah menyerap sebanyak mungkin ilmu kepenulisan dari para narasumber, melatih kedisiplinan menulis secara harian, memperluas jejaring bersama sesama pegiat literasi dari berbagai daerah, serta mengasah gaya bahasa agar semakin informatif dan menggugah.

 

Senin, 28 September 2026

Mengajar Lebih Efektif dengan AI: Trik Guru Modern Ciptakan Kelas yang Interaktif dan Personal

 

Mengajar Lebih Efektif dengan AI: Trik Guru Modern Ciptakan Kelas yang Interaktif dan Personal

I. Pendahuluan

Tantangan pendidik di era sekarang bukan lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan bagaimana menjaga keterlibatan (engagement) siswa yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital. Pendekatan mengajar satu arah acap kali membuat suasana kelas terasa monoton dan kurang responsif terhadap kebutuhan tiap anak.

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) menawarkan terobosan nyata bagi guru modern. Bukan untuk menambah beban teknologi, AI justru hadir sebagai asisten cerdas yang mempermudah perancangan pembelajaran. Dengan strategi yang tepat, guru dapat menghemat waktu persiapan sekaligus menciptakan suasana kelas yang jauh lebih interaktif dan terpersonalisasi.

II. Pembahasan

1. Trik Efisiensi Perencanaan dan Bahan Ajar

Persiapan mengajar sering kali menyita energi terbesar guru. AI dapat dimanfaatkan untuk memangkas durasi penyusunan perangkat pembelajaran:

  • Penyusunan Modul Ajar Kilat: Guru dapat mengandalkan perintah (prompt) yang spesifik untuk merancang draf modul ajar, rencana pelaksanaan pembelajaran, atau LKPD interaktif sesuai karakteristik siswa,dan perangkat pembelajaran yang lainnya,sesuai keperluan.

  • Variasi Soal Berjenjang: AI memudahkan pembuatan bank soal evaluasi dengan tingkat kesulitan yang beragam (HOTS dan LOTS) dalam hitungan menit.

2. Menciptakan Pembelajaran Interaktif dan Menyenangkan

Interaksi yang hidup di dalam kelas merupakan kunci utama keberhasilan transfer pengetahuan,ciptakan pembelajaran interaktif dan menyenangkan seperti contoh berikut oini:

  • Kuis dan Gamifikasi Otomatis: Mengubah materi bacaan tebal menjadi kuis interaktif, permainan kata, atau teka-teki silang digital untuk memantik antusiasme siswa di awal pembelajaran.

  • Visualisasi Konsep Kontekstual: Memanfaatkan generator gambar atau media AI untuk menghadirkan ilustrasi visual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga materi terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

3. Merancang Pembelajaran Terpersonalisasi (Personalized Learning)

Setiap peserta didik memiliki kecepatan dan gaya belajar yang berbeda. AI membantu guru menerapkan prinsip pembelajaran terdiferensiasi tanpa kewalahan,berikut adalah tips dalam merancang pembelajaran yang terpersonalisasi:

  • Pemetaan Kesulitan Belajar: Mengolah data hasil asesmen awal untuk mengenali anak yang membutuhkan pendampingan ekstra atau pengayaan.

  • Materi yang Disesuaikan: Menyediakan alternatif penjelasan materi—baik dalam bentuk analogi sederhana, cerita ringkas, maupun poin-poin visual—sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok belajar.

III. Kesimpulan

Mengajar secara efektif di era modern bukan berarti guru harus bekerja lebih keras, melainkan bekerja lebih cerdas (work smarter). AI adalah alat bantu yang luar biasa untuk membebaskan guru dari rutinitas teknis yang menyita waktu.

Ketika waktu persiapan dapat diefisienkan, guru memiliki lebih banyak ruang untuk berinteraksi, memberikan perhatian personal, serta menyuntikkan kehangatan dan inspirasi ke dalam setiap sesi pembelajaran di kelas.

Sabtu, 26 September 2026

Bridge to the Future: Menghubungkan Cara Mengajar Guru dan Cara Belajar Siswa Lewat AI

 


Bridge to the Future: Menghubungkan Cara Mengajar Guru dan Cara Belajar Siswa Lewat AI

I. Pendahuluan

Dunia pendidikan masa kini dihadapkan pada tantangan kesenjangan generasi (generation gap) yang cukup nyata. Guru, yang mayoritas tumbuh di era konvensional, sering kali memiliki pola pengajaran yang terstruktur dan berbasis teks. Di sisi lain, para siswa hari ini adalah generasi digital native yang terbiasa dengan informasi cepat, visual, interaktif, dan fleksibel.

Perbedaan pola ini tak jarang menciptakan jarak antara cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Di sinilah Artificial Intelligence (AI) hadir bukan sekadar sebagai alat teknologi baru, melainkan sebagai jembatan masa depan (bridge to the future) yang menyelaraskan metode pengajaran pendidik dengan karakter belajar peserta didik secara inklusif dan harmonis.

II. Pembahasan

1. Memahami Kesenjangan Pola Belajar dan Mengajar

Berikut adalah beberapa kesenjangan pola belajar serta mengajar antara guru dan siswa:
  • Gaya Pengajaran Guru: Berfokus pada penyampaian materi secara sistematis, penanaman pemahaman mendasar, dan pembentukan karakter dasar.

  • Gaya Belajar Siswa: Cenderung menyukai eksplorasi mandiri, umpan balik (feedback) yang cepat, konten multimedia visual, serta fleksibilitas waktu.

Keduanya tidak ada yang salah. Namun, tanpa adanya jembatan penyesuaian, proses transfer ilmu sering kali menjadi kurang efektif dan terkesan kaku.

2. AI sebagai Jembatan Penyelaras (Penyatu Dua Generasi)

Kecerdasan buatan membantu guru menerjemahkan kurikulum yang kompleks ke dalam format yang disukai oleh generasi digital, tanpa menghilangkan substansi materi pembelajaran.Berikut ini adalah peran AI dalam membantu guru,untuk menyelaraskan dua generasi :

  • Visualisasi Konten Abstrak: AI membantu guru mengubah teks pelajaran yang tebal menjadi diagram interaktif, simulasi 3D, atau presentasi visual yang menarik perhatian siswa.

  • Personalisasi Jalur Belajar: AI menganalisis tingkat pemahaman siswa dan menyajikan rekomendasi materi yang pas, sehingga guru dapat merancang pembelajaran terdiferensiasi tanpa kewalahan secara administratif. 

  • Umpan Balik Real-Time: Siswa mendapatkan bantuan latihan soal secara langsung saat belajar di rumah, sementara guru menerima laporan analitis untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu dijelaskan ulang di kelas.

3. Sinergi yang Menguatkan Hubungan Guru dan Siswa

Ketika cara mengajar guru dapat terhubung dengan cara belajar siswa, suasana kelas akan mengalami transformasi positif seperti berikut:

  • Komunikasi yang Lebih Efektif: Guru dan siswa memiliki "bahasa" yang sama dalam memanfaatkan media digital untuk berdiskusi.

  • Pendidikan yang Inklusif: Setiap siswa mendapatkan perhatian sesuai ritme belajarnya sendiri, sementara guru bertindak sebagai mentor yang membimbing arah berpikir dan Etika Digital mereka.

III. Kesimpulan

AI bukanlah tembok penghalang, melainkan jembatan yang menghubungkan dua dunia,yaitu: pengalaman dan kearifan seorang guru dengan ketangkasan digital para siswa.

Melalui pemanfaatan AI yang bijak, cara mengajar yang adaptif dan cara belajar yang aktif dapat bertemu di satu titik temu. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi menjadi proses satu arah, melainkan perjalanan kolaboratif menuju masa depan yang cerdas dan berkarakter.

Jumat, 25 September 2026

Bukan Menggantikan, Tapi Menguatkan: Peran AI dalam Mentransformasi Ruang Kelas Modern

 


Bukan Menggantikan, Tapi Menguatkan: Peran AI dalam Mentransformasi Ruang Kelas Modern

I. Pendahuluan

Laju perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir telah memicu berbagai perdebatan di dunia pendidikan. Salah satu kekhawatiran terbesar yang kerap muncul adalah wacana bahwa teknologi AI suatu saat dapat menggantikan peran pendidik di ruang kelas.

Namun, anggapan tersebut perlu diluruskan. AI hadir bukan sebagai ancaman yang akan menggeser sosok guru, melainkan sebagai alat bantu (enabler) yang memperkuat dan memperkaya proses pembelajaran. Artikel ini mengulas bagaimana integrasi AI mentransformasi ruang kelas modern menjadi ekosistem belajar yang lebih interaktif, inklusif, dan berorientasi pada masa depan.

II. Pembahasan

1. Meringankan Beban Administrasi dan Memperluas Ruang Inovasi

Salah satu tantangan terbesar pendidik adalah tingginya beban administrasi—mulai dari menyusun modul ajar, membuat instrumen penilaian, hingga mengoreksi tugas.Berikut peran ai dalam meringankan beban administrasi guru:

  • Otomatisasi Tugas Rutin: AI membantu menyelesaikan pekerjaan administratif dalam waktu singkat.

  • Fokus pada Interaksi Humanis: Dengan berkurangnya beban operasional, guru memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk mendampingi siswa, memahami dinamika kelas, serta membangun hubungan emosional yang erat dengan peserta didik.

2. Mewujudkan Pembelajaran Terpersonalisasi (Personalized Learning)

Setiap siswa memiliki gaya belajar, minat, dan kecepatan pemahaman yang berbeda-beda. Di dalam kelas konvensional, sulit bagi guru untuk memberikan perhatian khusus satu per satu secara bersamaan.Oleh karena itu ,AI hadir dan membantu guru dalam mewujudkan pembelajaran terpersonalisasi sebagai berikut:

  • Analisis Data Pembelajaran: Algoritma AI dapat mengidentifikasi letak kesulitan belajar seorang murid berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru.

  • Materi yang Disesuaikan: AI menyajikan rekomendasi materi atau latihan soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing siswa, sehingga tidak ada siswa yang merasa "tertinggal" atau "kurang tertantang".

3. Transformasi Peran Guru dari Pengajar menjadi Fasilitator

Kehadiran AI meredefinisi peran tradisional guru dari sumber tunggal pengetahuan (sage on the stage) menjadi fasilitator dan mentor pembelajaran (guide on the side).

  • Mengasah Kemampuan Literasi Digital: Guru membimbing siswa cara mengajukan pertanyaan yang tepat (prompt engineering), mengkritisi jawaban dari AI, dan memverifikasi kebenaran informasi.

  • Menanamkan Karakter dan Etika: Sementara AI menyediakan informasi, guru bertugas menanamkan nilai-nilai moral, integritas akademik, penalaran kritis, dan empati.

III. Kesimpulan

Transformasi ruang kelas modern melalui AI bukanlah cerita tentang teknologi yang menggantikan manusia, melainkan tentang bagaimana teknologi menguatkan potensi manusia. AI memberikan kecepatan dan akurasi data, sedangkan guru memberikan empati, kearifan, dan bimbingan karakter.

Ketika keduanya dipadukan secara harmonis, ruang kelas bukan lagi sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan wadah untuk menginspirasi dan melejitkan potensi setiap peserta didik secara optimal.


#9.Pengalaman Mengajar yang Berkesan

  Ukiran Pena dan Gemerlap Piala di Cipeundeuy Suasana sore di sekolah terasa hangat. Suara coretan pulpen di atas kertas dan derak cermin y...