Tampilkan postingan dengan label Tantangan Menulis 31 Hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tantangan Menulis 31 Hari. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Oktober 2026

#15.Setengah Perjalanan:Apa yang Saya Rasakan

 

Menjaga Nyala di Titik Tengah: Cerita Jujur Setengah Jalan di KBMN

Kursor berwarna hitam itu berkedip-kedip di layar laptop yang temaram, seolah memanggil-manggil ide yang dari tadi berputar-putar di dalam kepala tanpa tahu harus bermuara ke mana. Di pojok kanan bawah layar, kalender digital menunjukkan bahwa saya telah sampai di Hari ke-15 dalam Tantangan 31 Hari Menulis Komunitas Belajar Menulis Nusantara. Setengah perjalanan sudah dilalui, tetapi duduk di depan laptop malam ini rasanya jauh lebih berat dibanding hari-hari pertama dulu.

Saya menyandarkan punggung pada kursi kerja, menghela napas panjang sambil menatap cangkir kopi yang sudah dingin di meja. Jika harus jujur menggambarkan apa yang saya rasakan malam ini, jawabannya adalah perasaan yang sangat campur aduk. Ada sejumput rasa bangga karena berhasil bertahan melewati lima belas hari tanpa pernah alpa menyetorkan tulisan. Namun di balik rasa bangga itu, ada lelah yang merayap diam-diam, disertai kebingungan mencari topik baru ketika stok ide rasanya sudah terkuras habis.

Suara bisikan ragu mulai bermunculan di kepala, mempertanyakan apakah tulisan-tulisan yang saya buat dengan bersusah payah setiap malam benar-benar memberi manfaat, atau sekadar memenuhi tenggat waktu harian. Di titik pertengahan ini, semangat yang menggebu-gebu di awal bulan seakan menguap, menggantinya dengan ujian ketahanan mental yang sebenarnya. Menulis bukan lagi sekadar menyalurkan ide, melainkan perjuangan menaklukkan rasa jenuh dan kelelahan fisik setelah beraktivitas seharian.

Tangan saya menggapai ponsel yang tergeletak di samping laptop lalu membuka grup percakapan KBMN. Di sana, notifikasi terus berdatangan tanpa henti. Beberapa teman membagikan tautan tulisan mereka, sementara beberapa yang lain menuliskan keluh kesah yang serupa: lelah, bingung mau menulis apa lagi, tetapi diakhiri dengan kalimat saling menyemangati bahwa tinggal setengah jalan lagi kita sampai di garis finis. Membaca pesan-pesan jujur dari sesama peserta membuat dada saya mendadak hangat.

Saya menyadari satu hal penting malam ini; rasa lelah dan buntu bukanlah tanda bahwa saya gagal, melainkan bukti bahwa proses bertumbuh memang membutuhkan perjuangan. Kita tidak sedang berjalan sendirian di lorong yang gelap, melainkan beriringan dengan ratusan jemari lain di seluruh penjuru Nusantara yang sama-sama sedang merawat konsistensi.

Saya memajukan posisi duduk, meletakkan kembali jemari di atas kibor, dan membiarkan kata-kata mengalir begitu saja tanpa menuntut kesempurnaan. Saya tidak lagi memikirkan teori yang rumit, melainkan menuliskan secara jujur apa yang berkecamuk di dalam hati malam ini tentang perjuangan menembus titik tengah. Begitu tombol publikasi diklik, sebuah rasa lega yang hangat menjalar di dada. Hari ke-15 tuntas, dan dengan sisa energi serta kebersamaan yang ada, saya yakin enam belas hari ke depan akan mampu dilalui hingga akhir.

#15.Setengah Perjalanan:Apa yang Saya Rasakan

  Menjaga Nyala di Titik Tengah: Cerita Jujur Setengah Jalan di KBMN Kursor berwarna hitam itu berkedip-kedip di layar laptop yang temaram, ...