Menaklukkan Badai di Kepala
Malam di Lembah Ancala menjelma menjadi telaga sunyi yang dingin. Langit menggantung kelabu, seakan siap menumpahkan rerimbun jelaga ke dalam kamar Pratama. Pendar pucat dari layar monitor memantul pada matanya yang sembap,menjadi satu-satunya lentera redup di tengah gulita yang kian pekat. Di layar itu, sebuah situs resmi pengumuman kelulusan terbuka, menampilkan deretan angka dan nama yang sekali lagi tidak mencantumkan namanya.
Dua huruf mematikan itu kembali menyapa pandangannya: Tidak Lolos.
Di dinding, jarum jam melangkah patuh, meletupkan bunyi tik-tak yang menjelma menjadi ketukan palu algojo. Pratama membeku. Ini bukanlah kegagalan pertama, bukan pula yang kedua atau ketiga. Ini adalah kali kesekian dalam bertahun-tahun perjalanannya menerjang ujian seleksi CPNS,sebuah impian besar yang terus-menerus meremukkan harapannya tepat di garis akhir.
Berkas-berkas kartu peserta dari tahun-tahun sebelumnya, buku-buku latihan soal yang kusam, dan kumpulan lembar formulir berserakan di sudut meja bak dedaunan kering yang dihantam badai. Dada Pratama sesak, seolah seluruh semesta mendadak menguncup dan menghimpit rongga pernapasannya.
Perjalanan menuju muara ini dipenuhi jeram yang tajam. Bertahun-tahun lamanya, Pratama memeras peluh, mengurai lelah, dan menganyam doa. Di mata orang-orang sekitarnya, ia adalah sosok bermental baja yang selalu tersenyum, teguh, dan tak pernah mengeluh. Namun, malam ini, benteng keteguhan itu diguncang oleh gempa yang teramat dahsyat.
Pengorbanan waktu, malam-malam tanpa tidur untuk belajar, biaya yang tak sedikit, hingga pandangan dan pertanyaan bersirat dari lingkungan sekitar, lebur menjadi sebuah pusaran angin puting beliung. Seluruh bangunan harapan yang didirikannya dengan darah dan doa seolah runtuh, tersapu air bah dalam sekejap mata.
Lalu, di celah-celah kesunyian yang mencengkeram, raungan serigala di dalam kepalanya mulai bergema.
"Untuk apa engkau memeluk mimpi ini lebih lama jika yang menggumpal di ujung jalan hanyalah kegagalan yang sama?""Mungkin takdirmu memang tak bernilai. Menyerahlah, biarkan malam menelan seluruh usahamu. Tak ada guna berjuang jika hasilnya selalu meremukkan dada."
Bisikan-bisikan berbisa itu merayap bagai sulur-sulur hitam, menggerogoti tiang-tiang penyangga jiwanya. Untuk pertama kalinya, benteng mental yang tempaannya bertahun-tahun dipoles oleh air mata dan keringat mulai mengelupas. Jemarinya yang gemetar pelan-pelan menjangkau tumpukan buku di mejanya, berniat meremas dan membuang seluruh berkas perjuangan itu ke tong sampah. Ia berada di bibir jurang keputusasaan, siap melebur bersama rasa menyerah.
Pratama memejamkan mata erat-erat. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ruang kerja yang dingin itu perlahan memudar, berganti menjadi sebuah kilas balik yang hangat dari masa lalu.
Ingatannya melayang pada suatu sore di pinggir ladang tua. Saat itu, ia masih seorang remaja yang menangis sesenggukan karena usahanya dihancurkan cemoohan orang. Ayahnya, seorang pria bersahaja dengan telapak tangan yang kasar dan penuh kapalan, mengajak Pratama duduk di atas tunggul kayu yang terjal.
Di hadapan putranya, sang ayah mengambil sebatang besi tua yang menghitam. Dengan tenang, sang ayah memasukkan besi itu ke dalam bara api hingga menyala merah membara, lalu menghantamnya bertubi-tubi dengan martil berat, sebelum akhirnya mencelupkannya mendesis ke dalam gentong air dingin. Uap putih membubung tinggi membelah udara sore.
"Lihat besi ini, Pratama," ujar sang ayah saat itu, suaranya berat namun teduh bagai naungan pohon beringin. "Besi polos tidak akan pernah menjadi pedang yang tangguh tanpa melewati gilasan api yang membakar dan hempasan martil yang menyakitkan. Air dingin yang mendesis itu bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk mengunci kekuatannya."
Sang ayah mengusap kepala Pratama dengan jemarinya yang kasar. "Dunia akan kerap menghantammu dengan penolakan dan kekecewaan. Tapi ingatlah, Nak... Besi yang paling tajam adalah besi yang paling kerap dihantam godam dan dicelupkan ke dalam air dingin. Kegagalan tidak membakarmu untuk membinasakan, ia sedang menyepuh batinmu."
“Tetapi bagaimana jika rasa sakit karena gagal ini terlalu berat untuk ditanggung, Pak?” bisik Pratama muda kala itu dengan suara bergetar.
Sang ayah tersenyum tipis, menatap lurus ke garis cakrawala. "Rasa sakit dan penolakan itu ibarat hujan angin. Ia membuat jalanan licin dan gelap, tetapi ia tak punya kuasa untuk menghentikan langkah kaki, kecuali jika engkau sendiri yang memilih berhenti melangkah. Musuh terbesarmu bukanlah angka di lembar pengumuman itu, melainkan bisikan di dalam dadamu yang menyuruhmu menyerah sebelum besi jiwamu sempat menjadi tajam.”
Gema suara sang ayah menyeruak menembus lorong waktu, merubuhkan tembok keputusasaan yang sempat mengepung batinnya. Bayangan kelembutan ibunya pun ikut hadir, menyirami jiwanya bagai embun pagi yang menyejukkan.
Pratama menarik napas dalam-dalam. Diisapnya sunyi yang dingin itu hingga memenuhi belahan dadanya.
"Kekalahan ini hanyalah air dingin yang mendesis di atas tempaan api," bisik batin Pratama dengan keheningan yang sarat daya. "Dan aku tidak akan membiarkan bisikan penakut ini merenggut besi baja yang telah disepuh oleh doa orang tuaku."
Satu per satu, ia tutup pintu hatinya dari lolongan bisikan ragu. Ditepuknya dada kiri dengan perlahan namun pasti,sebuah ritual sunyi untuk membangunkan raksasa keteguhan yang sempat tertidur di dalam dirinya. Mental baja itu tidak pernah hancur; ia hanya sedang disepuh ulang dalam leburnya api ujian malam ini. Ia memilih untuk tetap bertahan, tetap berdiri, dan tidak membiarkan kegagalan mendefinisikan siapa dirinya.
Mata Pratama terbuka kembali. Sinar di maniknya kini tak lagi memancarkan bayang kepanikan, melainkan kilat keteguhan yang bening bagai kristal.
Ia merapikan tumpukan buku latihan dan berkas-berkasnya dengan perlahan namun pasti. Tidak ada lagi ketergesaan yang didasari rasa panik atau ratapan penyesalan. Ia menata kembali niat di dalam dadanya.
Ketika fajar di ufuk timur pelan-pelan membelah gaun malam dan memancarkan semburat merah layung yang hangat menerobos kaca jendela, Pratama berdiri tegak di depan jendela.
Ujian itu mungkin belum memberinya hasil yang diinginkan malam ini. Namun, fajar yang terbit pagi itu adalah saksi bisu atas kemenangan terbesar seorang manusia: saat ia berhasil membendung badai di kepalanya sendiri, meredam raungan bisikan ragu setelah berpuluh kali jatuh, dan membuktikan bahwa jiwa yang telah ditempa oleh keikhlasan tak akan pernah sanggup diruntuhkan oleh kegagalan apa pun.
