Rabu, 07 Oktober 2026

#7.Mengapa Guru Perlu Menulis

 

Jejak Pena di Ujung Senja


Lonceng sekolah baru saja berbunyi tiga kali, menandakan jam pulang sekolah telah tiba. Di sebuah SD negeri, suasana ruang guru mulai lengang. Hanya tersisa tumpukan buku latihan bergambar dengan tumpukan tugas mewarnai dan papan tulis kecil di sudut ruangan.

Pak Rahmad, seorang guru senior yang sudah mengajar anak-anak kelas empat selama dua dekade, menyandarkan tubuhnya di kursi kayu. Ia menghela napas panjang sembari menatap tumpukan kertas ujian di mejanya. Wajahnya tampak lesu.

"Kenapa, Pak Rahmad? Kelihatannya capek banget sore ini," sapa Bu Arini, guru muda kelas dua yang duduk di seberang mejanya.

"Bingung aku, Rin," panggil Pak Rahmad santai. "Anak-anak sekarang kok kayak makin susah disuruh fokus ya? Metode dongeng sama panggung boneka yang biasanya aku pake dari dulu, sekarang malah bikin mereka bosan. Apa akunya yang udah ketinggalan zaman?"

Bu Arini tersenyum tipis. Jari-jemarinya masih sibuk menari di atas kibor laptop. "Anak-anak zaman sekarang kan dikelilingi informasi yang cepat, Pak. Kalau gaya mengajar kita gitu-gitu aja, ya pasti mereka cepat bosan."

"Tapi kamu kok santai banget? Laporan kelas udah kelar, malah asyik ngetik dari tadi. Lagi ngerjain apa sih?" tanya Pak Rahmad penasaran.

"Ini lagi nulis artikel singkat tentang metode storytelling digital buat anak SD, Pak. Sekalian cerita pengalaman unik pas ngajar anak-anak tadi pagi," jawab Bu Arini sambil memutar layar laptopnya sedikit.

Pak Rahmad mengernyitkan dahi. "Untuk apa repot-repot nulis, Rin? Ngurusin modul ajar, meriksa PR anak-anak, sama ngadepin kelakuan ajaib mereka tiap hari kan udah bikin pusing. Buat apa nambah beban?"

Bu Arini terkekeh pelan, lalu merapikan posisi duduknya. "Justru dengan nulis, pusingnya malah hilang, Pak. Saat aku mau nulis satu artikel pendek aja, aku terdorong buat membaca buku baru, nyari jurnal pendidikan anak usia dini, dan nyari tahu strategi mengajar yang lagi efektif. Menulis itu 'memaksa' kita buat menambah wawasan. Kalau kita cuma ngandalin ingatan materi sepuluh tahun lalu, wawasan kita bakalan jalan di tempat."

Pak Rahmad terdiam. Ucapan Bu Arini tepat menampar kesadarannya. Memang benar, sudah bertahun-tahun ia tidak pernah membeli atau membaca buku metode pembelajaran baru. Ia hanya mengulang pola yang sama setiap tahun.

"Lagipula, Pak," lanjut Bu Arini pelan, "aku selalu ingat pesan Ki Hajar Dewantara. Beliau pernah bilang, 'Jadilah guru yang sepanjang hidupnya terus belajar, agar apa yang diajarkan tidak pernah mati oleh waktu.'"

Bu Arini menatap Pak Rahmad hangat. "Menulis itu cara paling nyata buat kita terus belajar, Pak. Saat kita nulis, kita lagi mengikat ilmu dan memperbarui cara berpikir kita. Biar apa yang kita sampaikan ke anak-anak SD ini tetap hidup dan relevan sama zaman mereka."

Kata-kata itu terngiang di telinga Pak Rahmad. Ia memandangi tumpukan buku cerita anak di sudut meja kerjanya, lalu beralih menatap laptopnya yang sejak tadi mati. Ada rasa hangat yang pelan-pelan tumbuh di dadanya—rasa rindu akan semangat mengajar yang dulu pernah membara.

Pak Rahmad menekan tombol daya di laptopnya. Layar menyala terang.

"Rin," panggil Pak Rahmad sambil tersenyum tipis. "Ajarin aku cara memulainya. Aku mau nulis refleksi tentang anak-anak hari ini."

Sore itu, di ruang guru SD yang sederhana, Pak Rahmad mulai mengetik kalimat pertamanya. Ia sadar, untuk tetap menjadi pelita bagi murid-muridnya, ia harus terlebih dahulu menyalakan kembali api belajar dalam dirinya sendiri.

Selasa, 06 Oktober 2026

#6.Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya

 

Langkah Pertama Sebuah Kata

Selama bertahun-tahun, pikiran saya ramai oleh riuh ide dan gagasan yang berebut ingin keluar. Ada kisah-kisah sederhana, perenungan harian, hingga pengalaman hidup yang rasanya sayang jika menguap begitu saja. Namun, setiap kali jemari menari di atas kibor atau memegang pena, langkah saya mendadak terhenti.

Di kepala saya, menulis adalah sebuah menara tinggi yang hanya bisa dipanjat oleh orang-orang berbakat alami. Menulis itu rumit, butuh tata bahasa yang sempurna, dan harus menggunakan kata-kata puitis yang melangit. Ketakutan akan cemoohan dan rasa tidak percaya diri selalu berhasil membungkam keinginan itu sebelum sempat menjadi satu paragraf pun. Ribuan ide akhirnya tenggelam, mati sebelum dilahirkan.

Hingga pada suatu sore, di antara tumpukan buku yang saya telusuri, jemari saya terhenti pada sebuah buku tentang panduan menjadi penulis. Judulnya sederhana, tetapi kalimat di lembar-lembar awalnya menghantam kesadaran saya dengan keras.

Buku itu tidak mengajarkan cara membuat kalimat yang mendayu-dayu atau teknik sastra yang rumit. Sebaliknya, sang penulis menyapa pembaca dengan sangat bersahaja. Salah satu pesan yang paling membekas adalah bahwa bagian tersulit dari menulis bukanlah menyusun kata-kata indah, melainkan keberanian untuk memulai dan kerelaan untuk jujur pada diri sendiri. Menulis bukanlah bakat gaib yang turun dari langit, melainkan sebuah keterampilan yang tumbuh dari konsistensi.

Seketika, cara pandang saya runtuh dan terbangun kembali dengan bentuk yang baru. Saya menyadari bahwa saya telah membentengi diri saya sendiri dengan prasangka yang salah. Menulis ternyata tidak menuntut kesempurnaan di draft pertama; menulis hanya membutuhkan keberanian untuk melangkah.

Malam itu juga, saya membuka lembar baru. Tanpa beban, tanpa rasa takut dihakimi, saya mulai menuangkan gagasan-gagasan yang selama ini terendap. Saya menulis tentang hal-hal yang saya cintai, pengalaman mengabdi, dan pemikiran-pemikiran sederhana yang ingin saya bagikan kepada dunia. Setiap hari, satu dua halaman tercipta dari rutinitas yang kini terasa menenangkan.

Bulan demi bulan berlalu, lembar-lembar tulisan itu menumpuk, merangkai sebuah perjalanan pikiran yang utuh. Keberanian yang mulanya hanya seujung kuku kini membesar, menuntun saya untuk merapikan setiap bab hingga akhirnya memberanikan diri membukukannya.

Hari ketika buku itu hadir di hadapan saya, memeluk wujud fisiknya dengan halaman-halaman yang harum bau tinta, saya tersenyum. Sebuah buku sederhana telah mengubah cara pandang saya selamanya: bahwa karya besar tidak pernah lahir dari kesempurnaan, melainkan dari satu langkah kecil untuk berani memulai.

Senin, 05 Oktober 2026

#5.Kegagalan yang Mengajarkan Saya

Tak Ada Pengabdian yang Sia-Sia


Suara gemericik air hujan di luar jendela ruangan kelas SDN 1 Ciraja seolah mengiringi deretan kenangan yang berputar kembali di benak Suherman. Di atas meja kerjanya, tertata rapi tumpukan lembar kerja siswa dan sebuah map berisi dokumen resmi. Di bagian atas dokumen itu, tertera nama lengkapnya beserta gelar yang diraihnya dengan penuh perjuangan: Suherman Komara, S.Pd.SD., lengkap dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) yang kini resmi melekat.

Butuh waktu dua puluh tahun untuk sampai di titik ini.

Dua puluh tahun lalu, dengan ijazah yang masih berbau tinta cetak dan semangat yang membumbung tinggi, Suherman melangkah mantap menuju lokasi tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pertamanya. Kala itu, bayangannya sederhana: lulus, memakai seragam khaki kebanggaan, dan mendedikasikan hidup sepenuhnya di dunia pendidikan. Namun, papan pengumuman di kantor kabupaten beberapa bulan kemudian memberikan jawaban lain. Namanya tidak ada di sana.

"Belum rezeki," bisiknya waktu itu, mencoba melapangkan dada.

Tahun berganti tahun. Musim tes CPNS datang dan pergi seperti siklus tahunan yang membawa harapan sekaligus ujian mental. Dua kali gagal, tiga kali gagal, hingga hitungan itu tak lagi sanggup ia ingat tanpa rasa sesak. Suherman menyaksikan rekan-rekan seangkatannya satu per satu lulus, merayakan kelulusan, dan melangkah maju. Sementara itu, ia masih berada di garis yang sama, mengajar dari hari ke hari sebagai guru honorer dengan honor yang jauh dari kata cukup, namun dengan pengabdian yang tak pernah berkurang sedikit pun.

Ada masa-masa berat ketika pertanyaan dari kerabat atau tetangga terasa lebih tajam dari sembilu. "Masih ikut tes lagi, Pak?" atau "Kenapa tidak cari pekerjaan lain saja?"

Di tahun-tahun ke-12 dan ke-15, rasa lelah luar biasa sempat merayap naik. Suherman pernah duduk di sudut ruangan kelas yang kosong setelah seluruh muridnya pulang, menatap papan tulis hitam, dan bertanya pada diri sendiri dalam hening: Sampai kapan? Apakah jalan ini memang diciptakan untuk saya?

Titik balik dalam hidupnya tidak datang dari pengumuman kelulusan, melainkan dari perubahan di dalam dadanya sendiri. Di suatu sore, saat melihat binar mata seorang murid sekolah dasar yang akhirnya bisa membaca setelah berminggu-minggu ia bimbing dengan sabar, Suherman menyadari satu hal penting. Ketulusannya mendidik tidak boleh disandera oleh selembar kertas status. Pengabdiannya di depan kelas adalah nilai hidupnya yang sejati, ada ataupun tanpa seragam khaki itu.

Sejak saat itu, ia berhenti mengutuki kegagalan. Ia menerima setiap kekalahan dalam ujian bukan sebagai penolakan atas kapasitas dirinya, melainkan sebagai proses menempa kesabaran yang lebih dalam. Kegagalan demi kegagalan mengikis rasa jumawa, mengajarkannya kerendahan hati, dan membentuk daya tahan mental yang tidak mudah patah oleh keadaan.

Hingga akhirnya, tahun ke-20 itu tiba.

Suherman mendaftar kembali. Kali ini tanpa beban ekspektasi yang menghimpit, tanpa rasa terburu-buru. Ia melangkah ke ruang ujian dengan persiapan matang, doa yang tenang, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Ia tidak lagi mengejar pengakuan, melainkan hanya melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Pagi itu, suasana di Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung di Soreang dipadati lautan manusia. Lembaran koran Pikiran Rakyat terbentang di jemari para peserta yang berdesakan meneliti baris demi baris cetakan nomor dan nama. Di sudut lain, kerumunan warga berdesak-desakan menatap papan pengumuman kayu berukuran besar. Jarinya yang sedikit gemetar perlahan menelusuri deretan nama yang tercetak di kertas lembaran pengumuman tersebut. Ketika matanya menangkap nama Suherman Komara, dada pria itu berdesir hebat. Air mata yang telah tertahan selama dua dekade akhirnya jatuh juga, menetes pelan mengaliri pipinya.

Kini, berdiri di depan murid-muridnya sebagai wali kelas, Suherman menyadari bahwa dua puluh tahun penantian itu bukanlah waktu yang terbuang sia-sia. Tuhan tidak sedang menundanya tanpa alasan; Tuhan sedang membentuk karakternya agar ketika hari itu tiba, ia tidak hanya siap menjadi seorang pegawai negeri, tetapi menjadi seorang pendidik yang benar-benar bijaksana, tangguh, dan penuh rasa syukur.

Minggu, 04 Oktober 2026

#4.Murid yang Memberikan Pelajaran

 


Lentera Kecil di Sudut Kelas

Suara gemuruh hujan mengguyur atap sekolah ketika aku menyusuri koridor belakang. Langkahku terhenti saat melihat Budi sedang duduk di sudut tangga yang redup. Kakinya yang telanjang dilipat rapat, sementara jemarinya dengan cekatan merapikan kantong-kantong plastik berisi keripik. Di sampingnya, sepasang sepatu hitam yang kusam dan terkelupas tersimpan rapi di dalam tas plastik bening.

"Budi? Kenapa belum pulang? Hujan deras begini, nanti kamu sakit," sapaku sambil menghampirinya.

Budi terkejut, lalu buru-buru berdiri dan menunduk sopan. "Eh, Bapak... Niatnya mau langsung pulang, Pak. Tapi menunggu hujannya sedikit reda dulu sambil merapikan keripik jualan Ibu."

"Sepatumu sengaja dilepas?" tanyaku menunjuk kantong plastik di dekat kakinya.

Ia tersenyum tipis, tampak agak malu. "Iya, Pak. Sepatu ini tinggal satu-satunya. Kalau basah kuyup kena hujan, besok tidak bisa dipakai sekolah karena susah keringnya."

Dada rasanya sesak mendengar jawabannya yang begitu polos. "Setiap hari setelah sekolah kamu berjualan keripik, Budi?"

"Iya, Pak," jawabnya jujur sambil mengangguk pelan. "Lumayan untuk bantu-bantu Ibu beli beras dan kelanjutan biaya berobat Adik. Tapi Budi usahakan kelilingnya cepat kok, Pak, supaya malamnya tetap bisa belajar."

Aku menepuk bahunya dengan lembut, kehabisan kata-kata atas keteguhan hatinya. "Kamu anak yang luar biasa, Budi. Tapi ingat kesehatanmu juga, ya. Jangan sampai terlalu lelah."

"Pasti, Pak. Terima kasih banyak," balasnya tulus.

Beberapa minggu kemudian, suasana kelas mendadak riuh saat aku membagikan hasil ujian akhir semester. Setelah memberikan apresiasi singkat atas kerja keras anak-anak, aku mengumumkan pemilik nilai tertinggi di kelas.

"Nilai tertinggi semester ini diraih oleh... Budi."

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Budi sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya berdiri dan berjalan maju ke depan kelas dengan langkah yang tenang.

"Selamat, Budi. Nilaimu hampir sempurna di semua mata pelajaran," ucapku seraya menyerahkan lembar hasilnya.

Ia menerima kertas itu dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih banyak, Pak... Budi tidak menyangka."

"Bapak tahu perjuanganmu tidak mudah. Di saat kamu harus bekerja dan menjaga adikmu, kamu tetap memberikan yang terbaik untuk belajar. Bapak sangat bangga padamu," kataku penuh rasa haru.

Budi menunduk dalam-dalam. "Ini semua karena bimbingan Bapak. Terima kasih sudah selalu sabar mengajar kami, tidak pernah membeda-bedakan, dan selalu memberi Budi semangat."

Aku tersenyum hangat lalu menepuk pelan pundaknya. "Justru Bapak yang harus berterima kasih padamu, Budi. Dari kamu, Bapak belajar banyak hal tentang arti perjuangan yang sesungguhnya."

#15.Setengah Perjalanan:Apa yang Saya Rasakan

  Menjaga Nyala di Titik Tengah: Cerita Jujur Setengah Jalan di KBMN Kursor berwarna hitam itu berkedip-kedip di layar laptop yang temaram, ...