Jejak Langkahku Berkecambah
di SPG Negeri Cimahi
Suara derit kapur tulis yang menyapu papan tulis hitam selalu menjadi irama yang paling kunikmati saat kecil. Di sebuah ruang kelas Sekolah Dasar yang sederhana, aku kerap duduk terpesona memperhatikan guruku mengajar. Cara beliau menjelaskan ilmu dengan penuh kesabaran, merangkul setiap anak tanpa membeda-bedakan, serta menyebarkan kehangatan di dalam kelas, menumbuhkan sebuah benih impian yang mengakar kuat di relung hatiku. Sejak masa SD itulah, cita-citaku telah terkunci erat: aku ingin menjadi seorang guru. Aku membayangkan diriku kelak berdiri di depan kelas, memegang kapur tulis, menuntun anak-anak mengeja kata demi kata, serta menjadi jembatan bagi masa depan mereka. Bagi anak kecil sepertiku saat itu, profesi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah, melainkan sebuah pengabdian mulia yang sangat terhormat.
Waktu bergulir hingga akhirnya aku menyelesaikan pendidikan di bangku SMP. Ketika teman-teman seperjuanganku sibuk berdiskusi memilih sekolah menengah atas umum, arah langkahku tidak pernah ragu sedikit pun. Tekadku sudah bulat dan tak tergoyahkan. Aku ingin segera menempuh pendidikan yang secara khusus membentuk dan mematangkan diriku menjadi seorang pendidik sejati.
Tahun 1984 menjadi tonggak sejarah yang amat penting dalam lembar kehidupanku. Dengan tekad yang membara, berkas yang tertata rapi, serta doa yang melangit, aku mendaftarkan diri ke sekolah idaman yang selama ini selalu kurindukan: Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Cimahi. Suasana pendaftaran kala itu terasa begitu riuh oleh ratusan anak muda yang memiliki mimpi serupa.
***
Hari-hari menanti pengumuman penerimaan terasa begitu panjang, diiringi rasa deg-degan yang membuncah. Setiap malam, doa tak henti-hentinya kupanjatkan agar pintu kesempatan itu terbuka untukku.
Hingga hari yang dinanti-nanti itu pun tiba. Langkah kakiku bergetar mendekati papan pengumuman. Di antara berlembar-lembar kertas yang tertempel, mataku menelusuri deretan nama dengan berdebar. Ketika melihat namaku tercantum jelas sebagai siswa yang dinyatakan diterima di SPG Negeri Cimahi, air mata haru dan rasa syukur yang mendalam tak terbendung meluap dari dalam dada. Alhamdulillah, pintu menuju cita-cita masa kecilku kini resmi terbuka lebar.
Menjadi bagian dari SPG Negeri Cimahi adalah salah satu babak kehidupan yang paling indah dan berkesan. Selama tiga tahun menempuh pendidikan di sana, aku tidak hanya diajarkan teori-teori pelajaran umum, tetapi benar-benar ditempa menjadi pribadi pendidik yang berkarakter, disiplin, dan berdedikasi. Kami mempelajari ilmu mendidik atau pedagogi, memahami psikologi perkembangan anak, merancang strategi pembelajaran yang menarik, hingga dilatih seni menguasai suasana kelas.
Suasana kebersamaan dengan teman-teman sesama calon guru terasa begitu hangat dan erat. Kami sering kali berkumpul di lorong sekolah atau ruang kelas yang kosong untuk saling berlatih praktik mengajar (microteaching), bertukar pikiran, serta saling memberi masukan. Bimbingan dari para guru di SPG Negeri Cimahi yang tegas namun penuh kasih sayang semakin memantapkan jiwa keguruanku. Disiplin tinggi yang ditanamkan setiap hari, tantangan saat menjalani praktik pengalaman lapangan di sekolah-sekolah latihan, serta tawa riang bersama kawan-kawan menjadi kenangan manis yang terukir abadi. Tiga tahun berlalu dengan penuh peluh dan kebahagiaan, hingga akhirnya aku berhasil menyelesaikan pendidikan dan lulus dari sekolah impian tersebut.
Ijazah dari SPG Negeri Cimahi menjadi bekal paling berharga yang mengantarkanku melangkah mantap memasuki dunia pendidikan yang sesungguhnya. Janji yang pernah kuucapkan di dalam hati sewaktu kecil kini telah menjadi kenyataan utuh. Kapur tulis yang dulu kulihat dari kejauhan, kini benar-benar berada di jemariku untuk menggoreskan ilmu di papan tulis.
***
Tahun demi tahun berlalu, zaman terus berganti dari masa ke masa, namun semangatku untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak pernah padam sedikit pun. Berdiri di depan kelas, melihat binar mata murid-murid yang haus akan ilmu, dan menyaksikan perkembangan karakter mereka dari hari ke hari adalah kebahagiaan tertinggi yang tidak bisa dinilai dengan apa pun. Dari tahun 1984 yang penuh kenangan hingga saat ini, perjalanan panjang ini membuktikan bahwa impian yang dirawat dengan keyakinan, kerja keras, dan ketulusan akan membuahkan pengabdian yang sangat indah. Menjadi seorang guru sampai hari ini adalah anugerah terbesar dan panggilan jiwa yang selalu kusyukuri di setiap langkah kehidupanku.
