Minggu, 07 Januari 2018

SISWA Vs MEDIA SOSIAL


Bapak ibu guru,pernahkah suatu hari menerima masukan dari orangtua siswa,misalnya tentang:
  • Anaknya yang lebih dominan main di media sosial daripada belajar
  • Anaknya setiap pulang sekolah susah disuruh belajar tetapi lebih asyik bermedia sosial
  • Dan curhatan lainnya yang berhubungan dengan media sosial

Pernahkah?
Kalau saya pribadi pernah menerima masukan seperti diatas,baik via messenger maupun melalui whatsapps,dan kewajiban kita untuk menerima masukan apapun dari orangtua siswa,termasuk keluhan mereka mengenai kebiasaan anaknya yang mulai terpapar dengan aktivitas media sosial.
Kita tidak bisa menyalahkan keberadaan media sosial,karena itu merupakan bagian dari kehidupan yang mulai mengglobal,dimana kemajuan teknologi dan perkembangannya tidak bisa dibendung,termasuk didalamnya perkembangan berbagai aplikasi media sosial,hanya bermodalkan sebuah Smarthphone dan Quota Internet,sekali klik di google play atau app store,dapatlah aplikasi gratis yang diinginkan.
Pertama kali,agak bingung memang,merespon masukan seperti itu dari orangtua siswa,yang menginginkan anaknya tidak menggunakan atau mempunyai akun di media sosial,kenapa begitu,mari kita putar ulang dulu,kilas balik sebelum sang anak mempunyai akun media sosial:
Hanya sedikit,anak yang tidak mempunyai Handphone,bahkan Handphone yang dimilikinya lebih canggih daripada handphone yang dimiliki oleh orangtuanya ataupun bapak ibu gurunya,dan...siapakah yang membelikannya??Pertanyaan yang tidak harus dijawab karena sudah terjawab,anak kita dibelikan handphone dengan berbagai alasan,misalnya:
  • Anaknya merengek terus.pengen dibelikan handphone,malu katanya,karena temen-temennya punya handphone
  • Hadiah ulang tahun
  • Hadiah naik kelas
  • Dan alasan lainnya.
Coba kalau anak tidak mempunyai handphone,rasanya tidak mungkin mereka mempunyai akun media sosial.
Tapi,nasi sudah menjadi bubur,dan guru mempunyai kewajiban untuk mengajar,mendidik dan membimbing peserta didiknya,kita abaikan sejarah anak kecil yang sudah memiliki handphone tersebut,karena sudah demikian adanya,bagi yang anaknya belum dibelikan handphone,tidak usah berkecil hati,hendaknya keluhan-keluhan sesama orangtua diatas,dijadikan bahan masukan,untuk tidak dengan mudah membelikan handphone kepada anak kita yang masih kecil.
Berikut langkah-langkah guru,dalam merespon masukan dari orangtua diatas:
  1. Mengedukasi peserta didik tentang guna dan manfaat handphone
  2. Mengedukasi peserta didik tentang kepemilikan akun media sosial
  3. Mengedukasi peserta didik tentang cara penggunaan media sosial yang bijak
  4. Mengedukasi tentang cara memposting status yang baik dan benar agar tidak melanggar UU ITE
  5. Mengedukasi peserta didik tentang cara berInternet yang sehat
  6. Mengedukasi peserta didik tentang manfaat positif internet untuk menunjang kegiatan pembelajaran.
  7. Mengedukasi peserta didik bahwa tugas utamanya adalah belajar,baik dirumah maupun disekolah,kesampingkan dulu urusan lain yang tidak urgen
  8. Mengedukasi peserta didik,agar jangan dulu membuat akun media sosial,sekiranya belum bisa membagi waktu antara belajar dan berdumay,susah memang,diera sekarang ini,menyarankan seperti itu,tapi tidak ada salahnya,kalau kita memberi saran seperti itu.
  9. Mengedukasi peserta didik,untuk selalu waspada dan hati-hati bergaul dan bersosialisasi di dunia maya.
  10. Mengedukasi orangtua siswa agar mereka paham dan sedikit mengerti Teknologi,karena terkadang dunianya terbalik,anaknya lebih mahir IT daripada orangtuanya,sehingga pungsi Control terhadap aktivitas googling dan searching anaknya tidak berpungsi,apa yang sang anak lakukan di dumay,tidak terkontrol,karena keterbatasan wawasan orangtua tentang itu,mudah-mudahan,jika orangtua paham,orangtua bisa mengontrol riwayat penjelajahan ataupun memantau kegiatan anaknya didunia maya.
Demikian,kurang lebihnya mohon maaf,mudah-mudahan bermanfaat!

Sumber poto dari:
  • http://www.readersdigest.co.id/info-medis/gangguan+mata+anak+akibat+pemakaian+gadget (online-diakses 7 Januari 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar